Topbar widget area empty.

PULANG

Oleh: Amaq Alifa

 

Inilah perempuan itu. Kini berjalan menjelang senja, dengan kakinya yang telanjang. Sepasang alas kaki yang dipakainya dari kota, telah ia lepaskan ketika ia tergelincir di tengah perjalanan. Satu buah talinya putus, dan tak lagi dapat menemaninya dalam melanjutkan perjalanan. Bahkan pingggir luar sebelah kanan dari telapak kakinya sempat tergores luka, hingga menimbulkan rembesan darah. Tapi ia tak hirau. Ia terus saja melangkah dan terus melangkahkan kakinya di atas jalan setapak yang menuju sebuah perkampungan di kaki perbukitan. Cairan keringat mengalir  membasahi sekujur tubuhnya, hingga merembes menembus pakaian yang dikenakannya. Sesekali ia mengusap peluh di dahinya. Tapi sesekali pula ia menyeka air mata yang meleleh di pipinya, dengan ujung jilbab yang dikenakannya.

 

Burung-burung pulang ke sarang, bunga-bunga mengatupkan kembang. Perlahan surya tertelan puncak pegunungan. Seulas senyum masih sempat ia pahatkan pada mega-mega melewati garis cakrawala, sebagai tanda perpisahan bagi sudut bumi yang akan ditinggalkan. Dan sebentar lagi malam yang kelam tanpa cahaya bulan akan hadir menyelimuti kehidupan, seumpama paras malakul maut yang datang menjemput jiwa dari jasad berlepot dosa.

 

Tiba-tiba perempuan itu menghentikan langkahnya, kemudian tercenung sesaat, sembari menatap ufuk barat yang terhalang perbukitan. Hatinya membatin. Kini matahari meninggalkan dirinya, hanya menyisakan pendaran cahaya senja yang tak lama lagi akan menghilang juga. Padahal ia sangat berharap segera sampai di kampung halamannya sebelum azan magrib tiba.

 

Kembali ia mencoba melangkah lagi. Tapi kini terasa benar keterbatasan diri datang menghampiri. Ah, capek benar rasa tubuhnya. Sudah sekira setengah jam lebih kakinya berjalan sejak turun dari andong yang mengantarnya sampai unjung jalan beraspal. Kampungnya yang terletak di kaki bukit dan hanya melewati jalan setapak mengharuskan dia berjalan kaki melewati areal persawahan, lalu sedikit menanjak melewati padang ilalang. Perjalanan yang sungguh amat melelahkan bagi dirinya sejak subuh hari. Mulai dari naik bemo kota, lalu sempat agak lama di terminal menunggu jadwal keberangkatan bis yang dinaikinya dan membawanya meninggalkan kota, menempuh perjalanan panjang yang lebih dari dua ratus kilo meter jauhnya. Dan kini, sekira kurang setengah jam lagi perjalanan akan ditempuhnya dengan berjalan kaki menuju kampung halamannya.

 

Ia kemudian menekuk lututnya sembari mengatur napasnya yang sedikit terengah karena kelelahan, lalu duduk sejenak di atas batu pipih di pinggir jalan setapak itu. Daun ilalang di sekitarnya kesiur tertiup angin, ditingkah suara jangkrik menyambut permulaan pergantian sore hari menuju malam.

 

Ah, tadi ia tak sempat berpamitan pada teman-teman seprofesinya, termasuk teman dekatnya yang bernama Melly, sebab memang ia ingin pergi secara diam-diam. Telah berkali-kali ia meminta izin baik-baik kepada mami, namun hanya omelan yang ia dapatkan. Kini ia telah pergi dari tempat itu. Dan sebentar lagi  akan berjumpa dengan keluarga dan sanak famili yang mengsihi dan dikasihinya,

 

Orang-orang di kampungnya, orang-orang yang paling dirindukannya. Ibu-bapak yang mulai menua, ketiga adik perempuannya yang mulai beranjak remaja – dengan yang paling  kecil sudah naik kelas lima, serta sanak famili lainnya, adalah orang-orang yang mengasihi dan dikasihinya. Tentulah mereka juga merindukan dirinya, sebagaimana ia merindukan mereka. Hampir tujuh bulan ia tak melihat mereka. Belum pernah sebelumnya selama itu tak bersua pandang secara langsung dengan mereka.

 

Tapi cerita apakah yang akan ia kisahkan kepada mereka? Kesenangankah? Kebahagiaankah? Atau…..?

 

Tidak! Biarlah hanya dia sendiri yang mengetahui kisah hidupnya. Biarlah sepenggal cerita hidupnya saat merantau ke kota menjadi rahasia hidupnya yang tertutup rapat-rapat. Biarlah hanya dia sendiri yang menanggung beban yang memberati batinnya. Biarlah derita hidupnya terkubur dalam-dalam pada kerak bumi yang paling dalam. Karena baginya, kota yang pernah dibayangkan sebagai lambang kemakmuran dan majunya peradaban, tak lebih dari hanya sekedar kota yang telah memangsa harga dirinya, menelan kehidupannya dalam keserakahan yang menyerupai raksasa rakus yang tak pernah puas memangsa manusia. Di sinilah ia dipaksa melepas kesucian dirinya tidak dengan semestinya, padahal kesucian itulah yang  selalu ia jaga selama ini. Ia telah ditipu oleh mucikari yang pura-pura berbaik hati menawarkan pekerjaan. Tapi ternyata pekerjaan yang ia sodorkan itu adalah pekerjaan nista yang memuakkan. Dan sejak itu malam-malamnya  terisi oleh kubangan lumpur dosa.

 

Meski pada awalnya sempat menyesali dan menangisi nasibnya yang malang, tetapi pada akhirnya ia mencoba menikmati gemerlap perputaran roda kehidupan. Dan di saat bersamaan ia menerima segala pujian yang dialamatkan kepadanya atas kecantikan lahir yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Di sisi lain ia juga menerima upah dari jerih payahnya melayani lelaki hidung belang,  yang tak lupa ia sisihkan untuk keluarganya,  yang tentu terasa wah menurut ukuran kampung halamannya. Hingga semua itu memalingkannya dari kesadaran atas kenistaan yang diterimannya. Lagi pula, apalah yang bisa diperbuat oleh seorang wanita lemah seperti dirinya. Yang dipunya hanyalah kecantikan dengan wajah alami dan kulit halus yang menawan, yang membuat mereka menjadi lebih buas daripada yang dibayangkan.

 

Namun, di waktu-waktu tertentu, sepi seringkali berbisik kepadanya. Mengajaknya menimbang-nimbang baik-buruk kehidupan, dalam rentang kira-kira usia yang tak patut dibanggakan.

 

Di lain waktu, tangisnya terkadang pecah di ujung tahajjud yang terkadang ia dirikan, atau di sela lantunan bacaan kitab suci yang dibacanya dengan sangat lirih, yang membuatnya lalu memelas kepada Tuhan, hingga bibirnya sampai basah oleh alunan istigfar.

 

“Melly, aku ingin pulang, dan tak akan kembali ke tempat seperti ini lagi,” katanya suatu waktu kepada temannya.

“Alaaaaa! Pulang ke mana, coba? Kita ini sudah kotor. Tidak ada yang mau menerima kita lagi, tau!”  Balas temannya membantah keinginannya.

 

Ia hanya diam mendengar perkataan temannya itu, sembari menahan pedih di lubuk hatinya.

***

 

Sayup-sayup telinganya menangkap lantunan suara azan, yang berkumandang dari kejauhan. Suara yang mengagungkan nama Tuhan, dan mengajak kembali bersujud kepada-Nya. Di sana. Dari kampung halamannya. Mendengar itu, sungguh, hatinya terasa tersiram air pegunungan. Sejuk menyapa perasaan.

 

Tanpa terasa air mata kembali meleleh di pipinya. Lalu ia sesenggukan menahan tangis yang tiba-tiba menderanya. Ia kemudian bersimpuh. Lalu tiba-tiba wajahnya mendongak ke atas, dan  kedua tangannya  ia tengadahkan ke langit lepas. Air matanya semakin bercucuran.

 

“Tuhan,” bisiknya lirih di sela isak tangisnya, “Masih adakah tempat yang Kau sisakan untuk diriku di sisi-Mu? Masih sudikah Engkau menerimaku kembali?”

“Tuhan, Engkau tau segalanya tentang diriku. Maka ampunilah daku yang hini ini.”

 

Kedua tangannya lalu menyeka air mata yang tumpah di pipinya. Tangisnya semakin menjadi tak terbendung lagi, menahan segala rasa yang berkecamuk dalam batinnya.  Hingga kemudian kepalanya rebah ke bumi, dan bersujud di tempat sepi ini, sembari melafalkan doa-doa suci.

 

Wahai angin timur yang bertiup dari padang gersang, katakanlah kepadaku, wanita manakah yang rela menjual diri hanya karena kemewahan dunia semata?

***

 

Matahari tersembul dari ufuk timur. Cahayanya menyapu penjuru, menghangatkan kembali kehidupan yang sempat kedinginan. Hinggap di atap-atap rumah dan mengusap-usap daun-daun pepohonan. Dan di sana, di kaki bukit itu, ia menyelusup ke sela-selah rimbun daun ilalang, mencari sesuatu yang hilang.

 

Kau di mana, manusia?



 

Amaq Alifa, lahir di Pringgabaya Lombok Timur tahun 1983, adalah admin Grup Puisi Tunas Sasambo. Sekarang tinggal di Taliwang Sumbawa Barat – NTB. Beberapa tulisannya pernah dimuat di Lombok Post dan Sumbawa Barat Post. Ikut dalam Antologi Puisi untuk Lombok, (Apajake & The Phinisi Pers, 2018).

 

Photo: TH Pohan

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 5 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*