Topbar widget area empty.
TEATER MARJINAL Kharisma2 Tampilan penuh

TEATER MARJINAL

Puisi puisi LY. Misnoto dan Khairani Piliang

 

 

 TEATER MARJINAL

Karya: LY. Misnoto

 

pentas di atas meja

terjadi bentrok. pemainnya

sebab ceritanya keluar dari alur

 

pemain pertama hanya sibuk

mengotak-atik buku-buku

sesekali menyelipkan selembar

di bawah meja pentas permainan

 

pemain kedua menutup

dengan tabir permainan

agar tak tercela jiwanya

pada mata sutradara

 

pemain yang lain

menunggu alir air matanya

habis tertelan keterdiaman

pun pada luka yang tumbuh

dan mengakar dalam rasa

 

prolog-prolog hanya kebisuan

yang mati. tak berguna. bisu.

atributnya, rayuan-rayuan

gombalkan segala kejadian

 

di atas meja, pentas kematian

pada pangan-pangan yang bisu

 

Malang, 2018

 

 

AKU (2)

Karya: LY. Misnoto

 

aku yang terekam

dalam ilusi-ilusi puisi

dengan diksinya mematikan

hingga aku mati setelahnya

 

pada bait-baitnya

tersimpan abjad bisu

membisukan segala yang tak bisu

hingga terbisukan segalanya

 

ada yang menafsirkan aku

bahwa aku yang tak diakui

dalam maya dan nyata

hingga dalam tubuh yang kaku

 

aku yang terhenti dalam mimpi

tersesat di antara para politisi

lalu hadir pada kompetisi

hingga terseret jeruji

 

berhentilah menafsirkan aku

biar aku tidak tersiksa

dengan omongan-omongan

yang terbisukan

 

hilangkan kematian aku

pada nyata dan maya

sebelum puisi melahirkan budi

 

Malang, 2018

 

 

YANG MATI DITELAN PUISI

Karya: LY. Misnoto

 

tubuh yang terlahir

pada seribu tahun silam

terdampar di antara ayat-ayat

suci kematian bianglala alam

 

doa adalah reinkarnasi alami

pada tubuh-tubuh

yang tergumpal:

kulit,

darah,

tulang

daging,

 

ada puisi menciptakan kuburan

bagi tubuh-tubuh yang

darahnya menjadi diksi,

tulangnya menjadi bait-bait,

kulitnya menjadi imajinasi

 

hilanglah tubuh-tubuh itu

tertelan ayat-ayat puisi

yang ingin hidup

seribu tahun lagi

 

Malang, 2018

 

LY. Misnoto, lahir di pulau Giliraja Sumenep, Madura. Aktif di Komunitas Pembatas Buku Jakarta (KPBJ). Puisi-puisinya pernah dimuat di media massa cetak maupun daring, di antaranya Radar Madura, Kabar Madura, Simalaba.net, Sukma.co, Koran Merapi, dan Radar Cirebon dan juga terkumpul dalam antologi tunggal yang berjudul Memori Juli (Vista, 2018).

 

 

  

SEMULA DAN KEMBALI PADA SUNYI

Oleh: Khairani Piliang

 

dari pagi yang buta

kita tak buta pada ingatan

tentang rindu yang pernah tersemat

menebar warna emasnya

di kehangatan masa silam

datang dari kisi kenangan

 

tempat ini bukan satu-satunya pelabuh keinginan

mencatat banyak kisah

yang terlahir dari rahim waktu

lalu tumbuh di matamu yang sayu

mengais harap

 

tapi semua pergi

bersama kabut

hilang diterpa musim

dan kita hanya menanti bisik angin

yang lupa memberi kabar

 

Jakarta, Sept 2018

 

 

SESUATU YANG TAK HABIS

Oleh: Khairani Piliang

 

mungkin kau lupa pada semangkuk sup lidah yang masih hangat

atau sepiring sarabi dengan kuah kuning kental

serta pisang bakar dengan aroma durian dalam panci

rasa itu sudah tak sama sekarang, hambar

 

pada musim yang seketika berubah

hujan tak lagi ada di mata

tapi bersarang di dada

mengetuk-ngetuk pintu kesadaran

bahwa kita akan selalu alpa berdiri

 

kita hinakan malam yang merenggut senyum sepotong rembulan

mengutuk kicau pagi karena begitu cepat melerai sepi

mereka tak salah apa-apa

kita yang salah, atau kita telah lupa mengartikan

bahwa kesunyian ini begitu komplit dengan aroma sakit yang basah

 

luka tak selalu memerah

ada batas-batas yang harus dilipat

disembunyikan dalam diam yang panjang

dengan bibir masih terus semanis gula

aku artikan ini sebagai kepenatan

dan biarkan waktu yang menyelesaikan

hingga batas nadir

kita tetap akan berjalan

pada arah berbeda

 

Jakarta, 260518

 

 

SIANG DI BATAS KOTA

Oleh: Khairani Piliang

 

tak seperti waktu-waktu sebelumnya

pada siang yang tandus

memecah kebisingan di antara tetes peluh

koper berwarna abu

tik tok pantofel dari langkah terburu-buru

 

bukan.. ini bukan barisan perkantoran

atau kesibukan metropolitan

tapi ketergesaan di tengah keresahan

menunggu yang tak lagi menjadi pilihan

 

mata jauh menelusur

tiang-tiang penyangga lampu

barisan kendaraan roda dua di trotoar jalan

berpuluh kepala hilir mudik

tak satupun terbidik



 

hingga di batas waktu

sepasang sabit di bibir

menguak membuka tabir

senyum itu kembali hadir

tak lama, hitungan detik saja

singgah, kemudian hilang entah ke mana

 

mimpi yang bukan mimpi

yang tertinggal kembali sepi

jatuh pada rindu yang terkemas

di batas kota kecil, di persimpangan kenangan

menjadi dejavu

yang takkan terhapus waktu

 

Jakarta,040618

 

Khairani Piliang, Jakarta. Beberapa tulisan sudah dimuat di media cetak maupun online. Buku : solo kumcer ‘Suatu Pagi di Dermaga’ Mei 2017, serta buku-buku antologi bersama (cerpen dan puisi). Aktif di beberapa grup sastra dan literasi. Tergabung dalam Komunitas Dapur Sastra Jakarta dan Perempuan Puisi.                       

 

Foto: TH Pohan

Ditulis oleh Sawaluddin Sembiring

Lelaki berdarah Karo-Aceh ini begitu tergila-gilanya akan laut, Kota tua, juga hujan. Bergiat di Forum Lingkar Pena Medan dan mendirikan BRAYANBENGKELFILMS untuk mengajak anak muda berkarya positif dengan kamera ponsel.