Topbar widget area empty.

Wasiat Lelaki Sawah

Oleh: Agus Salim

 

Meski dalam duduk, tubuh lelaki ini tetap tampak bungkuk. Melengkung seperti dahan pohon dibungkus kulit coklat tua. Seolah memang tak bisa lagi diluruskan. Di kepalanya, sebagian lebat rambut menyemburkan cahaya putih dan wajahnya dipenuhi garis-garis kerutan tebal. Sungguh, betapa usia tua begitu kejam memberi tanda pada tubuhnya. Dan, aku menemukan murung terhampar di sana, di dataran wajahnya itu. Hanya saja, aku belum bisa memastikan, apa gerangan penyebabnya.

 

Ada sebatang rokok menyala, diapit dua jemari kanan lelaki ini. Mungkin sebelumnya asap rokok itu sudah berulang kali dia isap, atau mungkin, tidak sama sekali dan dibiarkan saja. Tetapi sisa pembakaran tetap menjadi abu. Ia jentikkan abu rokok ke lantai, meski di meja ada asbak. Angin lembut lewat, menerpa tubuh kami, juga menyeret asap rokok pergi ke barat. Kalau tak salah, sudah sebulan lebih aku tak mengunjunginya. Andai saja ia tak mengirim SMS, mungkin aku tidak akan ada di sini malam ini, di samping lelaki yang aku sebut Ayah.

 

Di dalam SMS itu ia cuma menanyakan kesehatanku. Tetapi bagiku, itu sama saja dengan isyarat kalau ia sedang rindu bertemu denganku. Aku memang anak tak becus. Suka malas mengunjungi ayah sendiri dengan bermacam alasan kesibukan duniawi. Padahal jarak rumah kami tak begitu jauh. Hanya butuh setengah jam perjalanan. Ah, semoga Tuhan mau mengampuni dosa ketidakbecusanku ini.

 

Ayah memang sangat sayang padaku. Padahal ia punya anak dua. Dua-duanya perempuan. Kepada Malea, kakakku, ia tak begitu terlalu perhatian. Entah apa alasannya, aku tidak tahu. Aku mengira, mungkin, ayah selalu merindukanku karena aku berada jauh darinya. Tidak bertemu setiap hari.

 

Memang, setelah menikah aku ikut suami. Melanggar adat yang berlaku di tempat tinggalku, yang sebenarnya itu menjadi aib buat Ayah. Tapi, Ayah, memilih mengalah demi kebahagiaanku. Biasanya, memang suami yang harus ikut aku. Dan Ayah akan menyediakan rumah untuk kami meski tidak besar. Tapi, mau bagaimana lagi, suamiku tidak mau, dengan alasan tempat tinggalku terlalu gelap dan sunyi kalau malam hari. Itu sama saja membunuhku pelan-pelan, begitu kata suamiku dulu. Dia memang tidak suka kegelapan dan kesunyian.

 

Seperti biasanya, semuanya ikut mengunjungi Ayah, kecuali anak sulungku. Aku sengaja tidak membawanya karena kami tidak punya sarana transportasi memadai. Kalau ikut semua, sepeda motor tidak mampu menampung. Satu sepeda motor untuk lima orang tentu saja tidak muat! Dulu, suamiku pernah usul mau beli mobil. Tapi aku tidak mengizinkannya, karena belum terlalu butuh, dan tidak akan terlalu sering digunakan, dan lebih baik sisa uang ditabung untuk membiayai pendidikan anak-anak, itu lebih berguna.

 

Sebulan tidak mengunjungi rumah Ayah, ada yang berubah. Ayah merehab dapurnya. Mirip rumah kecil yang tampilannya indah dan bersih. Dapur Ayah memang terpisah dari rumah. Menurut keterangan yang aku dapat dari Malea, Ayah suka tinggal di dapur itu sekarang, dengan harapan aku mau pulang bersama suami dan anak-anakku dan tinggal di rumah yang biasa ditempati Ayah. Aku tak tahu itu benar atau tidak.

 

Menurutku, Ayah tidak kesepian. Rumah Malea berhadapan-hadapan dengan rumah Ayah. Malea sudah punya mantu dan cucu. Itu menurutku sudah cukup untuk membunuh kesunyian Ayah. Lagi pula Ayah juga sudah lama punya istri baru. Tapi, entahlah, mungkin apa yang dikatakan Malea benar.

 

Suamiku duduk di rumah Malea, seperti biasa. Ia berbincang-bincang dengan Erpana, suami Malea. Pasti percakapan mereka tidak jauh dari burung Love Bird, peliharaan mereka. Dua anakku juga ada di rumah Malea, sedang asyik bermain dengan cucu Malea yang sudah  bisa bicara. Hanya aku yang duduk di rumah Ayah, di beranda. Dari sejak tiba di rumah Ayah, aku tidak melihat batang hidung Munira, istri kedua Ayah. Mungkin sedang di rumah tetangga, dan aku tak punya selera bertanya soal ia kepada Ayah.

 

“Sanca sehat?” tanya Ayah. “Pasti dia sudah setinggi suamimu sekarang,” imbuhnya.

“Iya, sehat,” jawabku, “tapi dia masih setinggi aku.”

 

Aku tahu Ayah juga rindu bertemu anak sulungku. Sebab sudah terlalu lama Sanca tidak aku bawa serta ketika mengunjungi Ayah. Sanca adalah cucu kesayangannya. Lagi pula, Sanca juga selalu menolak jika diajak ke rumah kakeknya. Entah apa alasannya. Mungkin karena tidak ada hiburan di sini yang mampu membuatnya bisa melupakan waktu.

 

Ayah batuk-batuk setelah asap rokok itu masuk ke dalam mulutnya. Mungkin asap rokok tersendat di jalan tenggorokannya. Sebenarnya ia pernah berhenti merokok. Kalau tak salah satu tahun. Tapi setelah ibu meninggal ia merokok lagi. Entah apa alasannya. Mungkin karena ia merasa kesepian setelah kematian ibu dan lebih memilih rokok sebagai teman sepinya.

 

“Sawah-sawah itu sebentar lagi akan jadi batu, Kalea. Menurut kabar, pemerintah kabupaten mau memperlebar area bandara. Hah, mereka memang suka semau hati kalau berbuat. Cuma memikirkan kepentingan mereka sendiri. Beberapa sawah milik petani sudah mereka ambil dengan alasan demi kepentingan umum. Memang, ada ganti ruginya. Tapi, ganti rugi di tanganku tidak akan banyak berguna. Heran, memangnya tidak ada tempat lain lagi? Kok tanah-tanah produktif yang dihabisi. Terus kalau sawah petani mau diambil semua, petani mau kerja apa?” kata Ayah.

 

Aku sudah mendengar kabar pelebaran bandara itu, dan dugaanku tidak salah. Ayah memang mau bicara soal sawah denganku. Ia memiliki tiga petak sawah. Satu diantaranya sudah diwariskan kepadaku. Setiap tahun aku pasrahkan kepada ayah untuk menggarapnya dan aku pun dapat separuh hasilnya. Ayah memang petani tulen. Kalau sudah di sawah, ia seperti lupa waktu. Semangatnya mengalahkan yang muda-muda. Tak salah jika dulu Ayah diberi julukan “lelaki sawah” oleh orang-orang sekitar sini.  

 

Sebagai anak, aku sangat memahami perasaannya. Pemerintah kabupaten memang suka asal-asalan membuat kebijakan. Sebenarnya bandara yang sudah ada itu bisa dipindah ke tempat lain, ke tempat yang lebih lengang dan jauh dari rumah-rumah dan sawah-sawah. Bisa dicarikan tanah yang tidak produktif yang berdekatan dengan laut. Dan itu, menurutku, sangat mudah.  Aku tidak tahu, siapa sebenarnya yang bodoh dalam persoalan ini.

 

Istri kedua Ayah mungkin tidak terlalu peduli pada sawah-sawah Ayah karena memang dia tidak ikut membelinya dulu. Buktinya, di saat Ayah sedang murung dengan masalahnya saat ini, dia tidak ada. Atau, mungkin Ayah memang tidak menceritakan persoalan ini kepadanya? Aku tidak tahu. Tapi, meski tak diceritakan, pasti Munira bisa tahu dari kabar-kabar yang beredar di sekitar sini. Aku tak yakin kalau dia tidak tahu-menahu persoalan ini.

 

“Tapi aku tidak akan menyerah seperti Saridin, Manullah dan lainnya, yang sudah lebih dulu menyerahkan sawah mereka untuk dibeli. Aku akan melawan semampuku. Kalau perlu sampai tetes darah terakhir. Tanah-tanah sawah itu adalah kehidupanku yang aku beli dari hasil kerja keras dan keringat kuning. Lebih baik mati ketimbang kehilangan sawah-sawahku. Tekadku sudah bulat. Aku akan bertahan dan melawan,” kata Ayah sambil terengah-engah napasnya.

“Uang ganti rugi ‘kan bisa dibelikan sawah lagi, Yah,” ujarku, mencoba meredakan emosinya.

“Tanah sawah di mana yang harus aku beli? Semua jauh-jauh letaknya. Lagi pula, mana ada petani yang mau menjual sawahnya begitu saja tanpa ada tekanan. Aku juga sudah tua. Sudahlah, aku akan tetap bertahan dan melawan. Seumpama nanti aku mati dalam usaha perlawanan itu, kuburlah aku di samping makam ibumu. Ingat, ini wasiat,” kata Ayah dengan nada penuh tekanan.

 

Aku tidak berkata-kata lagi karena merasa ketakutan. Tubuhku merinding mendengar Ayah berwasiat semacam itu. Sepertinya ia memang sudah siap mati. Tapi, aku, belum siap kehilangan dirinya. Aku rasa Malea juga begitu.

 

Suamiku mengajak aku pulang karena sudah pukul 9. Tapi, aku masih berat hati untuk berdiri dan pamit undur diri. Aku merasa enggan meninggalkan Ayah dalam kondisi seperti sekarang ini. Tapi, mau bagaimana lagi, suami sudah mengajak pulang dan aku tidak punya kekuatan menolaknya.

 

Aku pun berpamitan. Saat mencium punggung tangan kanannnya, ia berbisik kepadaku:

 

“Kalau aku memang harus mati nanti, kau ajaklah suami dan anak-anakmu tinggal di rumah ini. Rumah ini milikmu. Kau garaplah sawah itu juga nanti. Ingat, jangan dijual. Malea sudah ada bagiannya. Ini wasiat keduaku kepadamu.”

 

Tak ada kata-kata yang bisa aku lontarkan untuk membalas bisikannya. Aku mencoba memberinya senyum meski dengan bibir gemetar. Sekuat tenaga aku tahan air yang hendak muntah dari sudut mataku.

 



Kami pun pulang. Di atas sepeda motor pikiranku tak tenang. Wasiat yang kedua itu menyesaki kepalaku. Aku mendadak pusing. Terus terang, aku bingung memikirkan cara menyampaikan wasiat Ayah kepada suamiku nanti.

 

Asoka 2019

 

Foto: de puspa

Agus Salim
Ditulis oleh Agus Salim

Lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980. Tinggal di jalan Asoka Pajagalan Sumenep Madura-Jawa Timur. Bergiat di Komunitas Rumah Literasi Sumenep