Luka, Luka, Luka Sendal Jepit (Illustrasi) - Terkait Tampilan penuh

Luka, Luka, Luka

Ada sepasang sandal jepit berwarna oranye, lumutan dan terasa licin saat disentuh. Pada sandal bagian kiri terdapat belimbing yang membusuk. Sedang di sebelah kanan, sebutir buah kelihatannya baru saja terjatuh. Sandal itu kemungkinan dilepas sewaktu berjingkat di saat akan mengambil buahnya atau bisa pula hanya ketika membuang dahan-dahan mengering yang tak berguna lagi. Lalu ketika selesai mengemas, sandal itu terlupa begitu saja oleh si pemakainya.

 

Lima bulan lalu, tuan sandal itu bernama Karim. Seorang pegawai tidak tetap di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Ia memilik tetangga yang sepasangnya sudah lanjut usia namun masih bisa menghidupi diri sendiri. Suatu hari, Nek Sumi, tetangganya itu menompang ikut ke kantor Karim. Mengurus Kartu Keluarga yang tiba ada perlunya, katanya.

 

Setiba di daerah perkotaan tanpa mengingat Karim yang masih memarkirkan sepeda motor, Nek Sumi langsung mengikuti orang-orang yang berjalan masuk. Ia seperti tersihir untuk segera mengetahui keadaan di dalam gedung. Sesampai di dalam, ia kaget. Ia melihat pintu yang bisa bergerak sendiri. Di samping pintu, ada pula foto yang membuat matanya tak henti-henti menatap.

 

Jari-jari Nek Sumi berjalan di dinding mendekati foto itu. Ia berpikir-pikir tentang foto. Tak ada kesan senang atau semacamnya. Namun kepada pemilik wajah dalam foto itu, ia seakan menyimpan sesuatu. Seperti sebuah perasaan yang membuat hatinya tak nyaman. Hanya ia belum yakin betul karena tidak mengenali siapakah itu.

 

Sewaktu ingin memegangi gambar dalam album kaca itu lagi, tiba-tiba pintu di dekatnya membuka begitu saja. Ia tersentak merasa telah berbuat salah, lalu tergelincir di lantai yang baru saja dipel hingga berakhir di kursi besi setelah sebelumnya menabrak tong sampah.

 

Nek Sumi tampak baik-baik saja. Benda miliknyalah yang terluka. Selop coklat motif batik yang telah ia pelihara selama lima tahun lebih sedikit itu, putus. Dan Nek Sumi dalam keadaan cemberut didapati Karim.

 

Tanpa banyak bicara sebab ramai mata menuju mereka, Karim menggandeng tangan Nek Sumi untuk naik ke lantai dua. Karim memberikan sepasang sandal jepit berwarna oranye nomor delapan. Ukurannya cocok di kaki Nek Sumi.

 

“Nanti kau pakai apa?” tanya Nek Sumi yang merasa sudah dua kali merepotkan Karim dalam hari itu saja.

 

Udah, tak usah dipikirin. Yang penting Nenek jangan sedih lagi.”

 

Baru tiga hari sandal itu di kaki Karim. Ia membelinya di toko kelontong seharga sepuluh ribu kurang lima ratus. Tapi Karim menggenapkannya jadi sepuluh ribu. Sandal itu Karim pakai ketika jemari kakinya terasa geli, lalu enak jika digaruk, lalu makin gatal bila digaruk. Ini terjadi ketika kaki Karim pengap di dalam sepatu yang selalu naik-turun tangga. Mengantar berkas-berkas, dipanggil bos-bos ke sana ke sini, disuruh beli makan siang, disuruh beli rokok dan air mineral. Kadang-kadang ia membantu bagian pembelanjaan mengangkut barang-barang hingga menyusunnya ke rak atau mengantarkannya ke ruangan lain . Ia selalu siaga dalam situasi bagaimanapun dan kalau boleh kapan pun.

 

Sepulang bekerja dengan muka galau, iseng-iseng, Karim mengintip rumah papan namun luas pekarangannya. Itu rumah tempat Nek Sumi tinggal. Matanya yang hangat menuju pokok belimbing wuluh belakang rumah. Bintik-bintik air tiris dari daun, membawa perhatian Karim ke sepasang sandal jepit oranye kusam. Sekilas sandal jepit itu tampak seperti sedang menunggu sambil berteduh.

 

Seketika ada yang menghantam di hati Karim. Kartaji, suami Nek Sumi sudah enam minggu tiada. Pada hari kematian Kartaji, Karim yang waktu itu sangat sibuk di kantor, kembali dengan tergesa-gesa. Ia meninggalkan setumpuk pekerjaan yang baru saja disuruh atasan. Sebagai tetangga yang baik harus begitu, bathinnya. Soal pekerjaan, besok-besok aku bisa lembur, pikirnya lagi. Akan tetapi baru tujuh hari perginya Kartaji, Nek Sumi buru-buru minta pindah.

 

“Rim, Karim!” panggil Nek Sumi. Ia tergopoh-gopoh menyusul Karim yang pulang bekerja dan baru saja meletakkan ransel, “Tolong kau antarkan Nenek ke Seberang.”

 

Dahi Karim seperti kulit jeruk purut. Ia terkejut sekali. Bagaimana mungkin seorang wanita renta pergi dari rumahnya sendiri setelah suaminya pergi untuk selama-lamanya. Keluarga macam apa ini?

 

“Tapi, nanti Nenek dengan siapa?” tanya Karim, sedikit cemas namun berusaha tak terlalu ikut campur dalam urusan keluarga itu. Biar bagaimanapun hubungan pertetanggaan terbaik adalah hubungan yang tak pernah turut menyibuki urusan dalam negeri keluarga tetangga.

 

“Tak usah kau pikirkan soal itu. Nenek bisa menjaga diri,” jawab Nek Sumi sambil tersenyum namun sorot matanya tak bisa memungkiri kalau hatinya lagi nelangsa.

 

Barang-barang Nek Sumi sudah menunggu di antara rumah papan dengan kontrakan Karim. Barang-barang itu terbungkus dalam kain sarung jelek yang di beberapa bagiannya ada yang bolong. Sebagian dimasukkan ke goni dan kresek hitam. Karim sedih melihat Nek Sumi sedih.

 

Melalui jendela yang terbuka lebar bertemu dengan jendela yang terbuka lebar itu, mata Karim menangkap sesosok buncit yang sama buncitnya dengan laki-laki di kantornya. Di sana tampak juga beberapa orang yang sibuk menyapu, melibas sarang laba-laba, dan memukuli jelaga yang menompang tinggal di sepanjang dapur. Mereka tampak sangat bergairah. Seperti ingin cepat-cepat selesai.

 

Apa Nenek diusir? Karim bertanya. Tapi itu hanya berani ia tanyakan di dalam hatinya yang tak mungkin terdengar oleh perempuan lanjut usia di hadapannya.

 

Nek Sumi menatap mata Karim. Lama ia berdiam di sana. Seandainya kau ke luar dari perutku, pikirnya. Nek Sumi dengan Kartaji tak sampai punya anak. Usia pernikahan mereka memang cukup untuk itu. Lima belas tahun. Tapi menikah di usia senja adalah muskil untuk itu. Kartaji tujuh puluh, Nek Sumi hampir enam puluh.

 

Rumahtangga mereka bermula dari: Tidak enak merepotkan keluarga, sementara kita masih bisa mengurus diri sendiri. Walau begitu, peristiwa itu terjadi tentulah tersebab restu anak-cucu kedua belah pihak meski waktu itu memang ada yang tak bisa hadir. Anak paling tua Kartaji dan keluarganya.

 

Tetapi ketika Kartaji ternyata lebih dulu meninggalkan dunia, Nek Sumi merasa dirinya hanyalah orang asing yang menompang singgah pada orang asing. Orang yang menompang harus pergi jika tak lagi ada perlunya. Itu bahasa yang ia temukan melalui tatapan anak tertua Kartaji yang seolah meremas dagingnya mentah-mentah.

 

Sesampai mengantar Nek Sumi ke Seberang ke rumah adiknya yang juga sudah janda tak beranak, Karim baru sadar kalau sandal yang dikenakan wanita tua itu bukanlah sandal oranye pemberiannya. Sandal jepit oranye yang mengingatkannya kepada kantor penuh tekanan dan jam kerja yang terserah bos. Sandal jepit oranye yang mengingatkannya kepada gatal-gatal di telapak kaki sehingga ia diputuskan kekasih secara sepihak. Nek Sumi ia lihat mamakai selop coklat motif batik. Karim lupa. Karim lupa kalau ia sendirilah yang membawa selop itu ke tukang jahit dengan upah seharga sandal oranye miliknya. Tapi di mana sandal jepit berwarna oranye?

 

Ah, sandal jelek berwarna oranye. Riwayatmu kini. Nek Sumi meninggalkanmu di bawah pokok belimbing wuluh kehujanan. Dan kau ditemukan Karim dalam keadaan luka seluka perasaan orang-orang yang mengerti soal luka.

 

Karim menyabun sandal itu dengan sabun mandinya sambil ia mandi juga. Seusai menyikatnya sampai berbusa-busa, ia lalu menikmatinya di telapak kaki. Perasaan Karim mengatakan: dulu, dia memang milikmu (milik Karim), tapi sejak lewat dulu, dia milik ia–milik Nek Sumi. Tapi apa mungkin Karim mengembalikan sandal oranye itu ke bawah pokok belimbing yang kehujanan karena berpikir bahwa sesuatu yang pernah dimiliki, jika sudah diserahkan kepada orang lain sekalipun orang tersebut tak menggunakannya lagi, maka benda itu tetaplah milik orang itu? Apapun kata dunia, terserah dunia sajalah.

 

Karim melirik gelang jamnya. Angka lima. Setidaknya butuh tiga puluh menit agar kendaraan sampai ke Seberang. Ban sepeda motornya langsung lari agar nanti tak ketemu gelap di perkebunan kelapa sawit.

 

Setiba di sana, Karim tak mendapati Nek Sumi. Hanya bisik-bisik liris, serta kepala-kepala menoleh yang menyambut mesin motornya ketika tiba-tiba menjerit lalu mampus. Perempuan renta itu telah dikebumikan sore tadi selepas hujan deras.

 

Sebelum hari benar-benar malam, Karim berlari ke pemakaman basah. Ia memegangi sandal murung itu dan membayangkan kaki Nek Sumi yang selebar pisang goreng. Karim menangis tertawa mengingat orangtua itu pernah terjungkal di kantornya.



 

“Sandal ini mencarimu, Nek,” Karim berbicara sendiri sambil meletakkan sandal itu di tanah, “Kelak jika Nenek mau ke suatu tempat lalu membutuhkan bantuanku, aku tak mau menjawab sekeras apapun Nenek berteriak. Jadi kuletakkan saja di bawah kakimu. Jangan sampai lupa.”

 

Karim tak menginginkan sandal jepit oranye itu lagi sekalipun Nek Sumi sudah tidak membutuhkannya. Laki-laki buncit yang sama buncitnya dengan laki-laki di rumah Kartaji ketika ia membuka jendela lebar-lebar lalu tampak orang yang sibuk menyapu, sudah memecat Karim dari pekerjaannya. **

 

Riau, Agustus 2016

Ditulis oleh Jeli Manalu

lahir di Padangsidempuan, 2 oktober 1983, Tinggal di Rengat-Riau. Penikmat sastra dan giat menulis cerpen