Topbar widget area empty.
Kembang Durian Kembang Duren Cengkaruk Tampilan penuh

Kembang Durian

Entah sudah berapa lama Aisah berdiri diam di bawah pohon itu padahal  hari masih  gelap. Dari kejauhan sayup-sayup suara azan Subuh belum lama berkumandang. Selesai Subuh dua rakaat tadi, Aisah lekas melipat telekungnya dan diam-diam pergi ke kebun. Juga tak dirasa-rasanya embusan angin pagi yang bertiup dari arah perbukitan dan seakan menusuk ke tulang. Dalam suasana redup, mata Aisah dapat menangkap jelas pucuk-pucuk kembang yang berguguran di tanah. Wajahnya semringah menatap banyak kembang tergeletak begitu saja di tanah kecoklatan.

Sebentar-sebentar matanya menengadah menatap langit. Beberapa lama berdiri di sana, ia mulai menangkap semburat kuning kemerahan dari ufuk timur. Sebelum pagi beranjak terang, dirinya memutuskan untuk mulai memunguti kembang berputik putih itu dan menyimpannya ke wadah plastik yang dibawanya. Kembang-kembang durian yang ia dapat masih segar karena belum terkena sinar matahari sedikit pun. Kesiangan sedikit saja, Aisah hanya akan mendapatkan kembang durian yang layu dan berlendir.

Sesekali, ia menyeka bibirnya dengan bagian tangan yang kosong. Entah kenapa mulutnya seakan-akan penuh dengan liur yang meleleh. Aisah tidak ingat kapan terakhir lidahnya mencecap lezatnya sepiring tumisan kembang durian. Mungkin setahun lalu. Atau dua tahun. Seingatnya terakhir ia ke sini, pohon raksasa itu memang sedang tak berbunga.

“Rupanya kau di sini, Aisah?” sapaan akrab yang dikenalnya membuat Aisah menoleh ke belakang.

Makcik Mila muncul dengan masih mengenakan bawahan sarung dan baju kurung yang dikenakannya semalam. Aisah berusaha tersenyum dan bersikap sewajar mungkin seakan semuanya baik-baik saja.

“Kau ingin aku menumis kembang-kembang itu untukmu, Aisah?” tawarnya sambil ikut berjongkok di sisi Aisah. Jemarinya yang gempal bulat ikut memunguti kembang-kembang yang diincar Aisah.

“Boleh, Makcik. Dah lama Aisah tak makan tumisannya. Di Jakarta amat sulit menemukan kembang ini.”

Sekejap kemudian, Aisah gegas berdiri menyadari wadah plastik di tangannya telah penuh sambil mengamati kebun durian makciknya yang tak berubah. Di kebun yang tak seberapa luas itu, Makcik Mila turut menggantungkan hidupnya di masa tua.

“Sudah cukup, Aisah. Kita pulang sekarang.” ajak Makcik Mila.

Namun bukannya langsung pulang, Makcik Mila sengaja mengajak Aisah memutar jalan melewati kebun-kebun durian yang banyak terlihat dari badan jalan, barisan pohon duku dengan daging buah yang hampir masak serta rumah-rumah panggung kayu para penduduk. Mereka berhenti di sebuah warung pinggir jalan untuk sarapan nasi lemak sambil menikmati panorama sungai Batanghari di kala pagi.

Selesai dengan urusan perut mereka bergegas pulang dan tiba di rumah saat matahari naik sepenggalah.

“Wajahmu pucat, Aisah. Istirahat bae lah sana. Biar Makcik yang masak kembang-kembang ini untukmu.” ujar Makcik Mila dengan kedua tangan sibuk menyiapkan bumbu-bumbu. Makcik Mila berbaik hati memasak untuk Aisah meski di Jambi, tidak lazim orang menyantap tumis kembang durian. Perempuan paruh baya itu tahu Aisah amat menyukai tumis kembang durian sejak mengikuti suami pindah ke Jakarta, dan mendapat tetangga yang juga gemar menyantapnya. Sayang hanya sesekali karena sulitnya menemukan pohon durian di sana.

“Aisah, kau dengar Makcik, tak?”

Aisah menoleh, menatap Makcik yang dihormatinya sambil terus menguliti beberapa butir bawang merah.

“Aku tak apa-apa, Makcik. Hanya pusing sikit.” gumam Aisah pelan.

Tak lama, wangi sedap kembang durian yang selesai ditumis memenuhi dapur. Tapi anehnya wangi itu malah menusuk penciuman Aisah.

“Hoekk.. hoek…uhuukk,” sambil terbatuk-batuk ia berlari ke kamar mandi. Dan tiba-tiba saja keinginan Aisah mencicip sepiring tumis kembang durian lenyap. Di belakangnya, Makcik Mila geleng-geleng kepala.

Semua bermula pada Sabtu lalu, setelah keluar dari rumahnya untuk bekerja, tiba-tiba saja Aisah urung berangkat  dan meminta pengendara ojek online yang ditumpanginya memutar kembali laju motornya menuju rumah. Tubuhnya mendesir dingin dan kepalanya seperti limbung. Perasaan asing kerap menyergapnya akhir-akhir ini.

Namun setibanya di rumah, tidak ada siapa-siapa. Rumah kosong. Pintu depan terkunci tapi pagarnya tidak. Suaminya entah kemana. Mobil milik suaminya juga tiada. Ia memutuskan masuk dengan kunci duplikat yang ia simpan di tas tangannya sambil bertanya-tanya kemana suaminya pergi.

Ia sedang terbaring di ranjang saat terdengar suara-suara dari luar rumah. Suara mesin mobil suaminya muncul namun tak berhenti di muka rumah seperti biasanya. Ia buru-buru bangkit, mengintip dari jendela. Mobil itu parkir tiga rumah dari seberang rumahnya. Di depan rumah salah satu tetangga, janda cantik beranak satu yang belum lama dicerai mati. Kaca mobil yang gelap membuatnya tak bisa melihat apapun. Matanya nanar saat wanita berambut panjang itu, tergesa-gesa turun berlari ke dalam rumah dan kembali sambil menjinjing sebuah tas bayi.

Mobil melaju pergi. Ia menatap mobil itu dengan hati kalut dan jemari tangannya tak henti mengelus air yang tiba-tiba meluap-luap di dadanya. Juga di matanya.

Entah kemana mereka pergi, ia juga tak mau tahu. Tanpa berpikir lagi, Aisah membuka lemari, mengeluarkan beberapa setel pakaian lalu memasukkannya ke tas ransel berukuran sedang. Tak lupa ponsel dan dompet ia selipkan disela-sela lembar pakaian.

Sudah tiga hari ini Aisah menginap di rumah Makcik Mila, di Muaro Jambi. Saat pagi datang atau sebelum petang menjelang, ia kerapkali berjalan menuju kebun durian Makcik Mila yang terletak di area yang tak jauh dari kompleks candi berada.

Di sana, Aisah akan bersandar di batang durian yang sedang berbunga sambil memejam mata. Di saat-saat begitu, ia segera terhanyut pada kenangan-kenangan lama bersama Bang Bujang. Mereka jarang bertengkar. Bahkan selama enam tahun pernikahannya, tak pernah ada cekcok luar biasa antara ia dan suaminya meski ia tak kunjung hamil.

“Anak itu rejeki. Kalau belum dapat, ya mau gimana lagi?”

Aisah menghela napas teringat seloroh suaminya. Ia memutuskan berkeliling sambil berjalan pulang. Di tengah jalan, Aisah bertemu dua orang perempuan paruh baya mengenakan semacam kain penutup kepala. Di punggung keduanya memanggul keranjang anyam besar berisi ranting-ranting kayu. Mereka mengangguk ramah sejenak pada Aisah yang kala itu melintas. Rupanya keduanya tengah mencari potongan-potongan kayu yang banyak berjatuhan di sekitar kompleks candi.  Di sini, beberapa orang masih lazim memasak dengan tungku.

Hari hampir Magrib saat Aisah tiba di muka rumah Makcik Mila. Makciknya hanya tinggal seorang diri di rumah yang lapang itu. Itu pula yang membuat Aisah memilih menepi sejenak dari riuh Jakarta dan terbang ke rumah ini. Di sini, tak akan ada yang merasa terganggu dengan kedatangan Aisah. Kedua anak Makcik Mila, Jamil dan Umi telah menikah dan hidup berkeluarga di rumah yang berjarak ratusan kilo dari sini. Rumah Makcik Mila senyap seperti kuburan. Hanya sesekali saja rumahnya ramai di hari raya. Bisa jadi karena kesenyapan itu pula, Makcik Mila memilih beternak burung murai di sepetak tanah samping rumahnya. Di sana, ia membuat beberapa kandang besar dengan tinggi melebihi tubuh Aisah saat berdiri. Beberapa kandang kecil dan kotak persegi yang dibuat menyamai inkubator ditata tak jauh dari kandang-kandang besar itu.

Ada sepuluh pasang murai kepunyaan Makcik Mila. Karena burung-burung itu juga, sepanjang hari rumah Makcik Mila tak lengang lagi. Makcik Mila pun tak sempat meratapi kesepiannya karena saban hari sibuk mengawasi Jay dan Imron, dua bocah tanggung anak tetangga sebelah yang ia bayar untuk mengurus peternakan murai miliknya.

“Makcik, mungkin besok Aisah pamit.” ucap Aisah seusai berdoa lepas salat Magrib.

Makcik Mila yang masih duduk bersimpuh, menoleh ke arahnya dan berkata sambil tersenyum, “Bagus lah, kau mengerti. Kabari Makcik jika dah tiba di Jakarta, yo.”

Esoknya dengan pesawat pertama, Aisah terbang menuju Jakarta. Hari masih pagi saat Aisah tiba di rumah. Pintu rumah terbuka sedikit. Dengan hati-hati ia melangkah masuk dan mendapati Bang Bujang yang tertidur lunglai di kursi tamu. Perlahan Aisah duduk di sebelah laki-laki itu. Ia tidak berkata apapun melihat wajah suaminya yang tampak lelah dengan samar hitam melingkar di sekitar mata. Ia malah ikut bersandar di kepala kursi dan mengingat lagi pesan yang dikirim suaminya semalam.

“Sungguh Dik, Abang tak ada hubungan dengan janda itu. Kalau tidak percaya, tanya Ibu Diah yang juga ikut mengantar Bu Nia ke rumah sakit.” kira-kira begitu isi pesan dari suaminya semalam.

Aisah merasa matanya memanas dan tenggorokannya sakit. Ia berdeham kecil, lalu menoleh, dan mendapati kepala suaminya bergerak-gerak. Dehaman kecilnya tadi telah membuat tidur laki-laki itu terganggu. Aisah lekas memejam mata dengan perasaan campur aduk. Ia menelan ludah mendengar suara suaminya yang dalam dan berat,

“Alhamdulillah, kau sudah pulang, Dik.”

Aisah bergeming meresapi tangan kekar suaminya hangat menggenggam jemarinya. Perlahan ia membuka mata dan mendapati wajah suaminya yang tampak lebih tua beberapa tahun. Saat itu, rasanya Aisah ingin mengucap sesuatu namun entah kenapa tiba-tiba Aisah dilanda mual melihat wajah suaminya yang diam-diam ia rindu.



Hoekk.. hoekk.. malah suara itu yang keluar dari mulutnya.

Saat berlari terbungkuk-bungkuk menuju kamar mandi, Aisah sadar betul mual yang menyerangnya sama dengan mual yang ia rasa saat hendak menyantap tumisan kembang durian kesukaannya. Atau buah durian. Atau wangi nasi hangat yg mengepul.

Hooekk.. hoekk.. Aisah berusaha menutup mulutnya sambil berpikir keras.

Hoekk.. hoekk… semua isi perutnya seakan keluar tak berhenti.

Eva Sholihah
Ditulis oleh Eva Sholihah

    Penulis yang lahir di Jakarta, 30 Agustus 1987, juga seorang karyawan swasta dan tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan