Topbar widget area empty.
Para Penumpang Bus Bus Damri Aglomerasi (Illustrasi) Tampilan penuh

Para Penumpang Bus

Kembali aku menaiki BRT menuju Bandung. Meski begitu sudah yang keempat kalinya, aku masih merasa seperti mimpi. Perjalanan jauh dari Majalaya bisa dinikmati dengan bus dengan fasilitas kursi empuk, ber-AC, tidak ngetem lama, tak membiarkan pengamen kumal merusak kenyamanan. Karena bus ukuran tiga perempat ini, aku menyanjung presiden. Melupakan semua pemberitaan miring tentang beliau sambil mendengarkan lagu-lagu yang diputar sopir bus.

Sudah puluhan tahun, bus trayek Majalaya-Bandung jarang sekali melaju tanpa membuat penumpangnya menggerutu. Ngetem hingga satu jam. Sebelum melaju pun kadang mesti didorong dulu agar mesinnya hidup. Setelah kendaraan bekas itu bergerak, kernet tak henti menyerukan tumpangan. Meski penumpang di dalam telah berdempet seperti batang korek api, kernet masih menaikan penumpang. Sampai bus pun bergerak lamban dan miring, seperti kura-kura tua yang tak sanggup menanggung tempurung.

Bahkan saking baiknya sang kernet, pedagang asongan dan pengamen pun boleh bersuka ria di dalam bus yang sumpek. Bayangkan, dua atau tiga pemuda berpakaian kumal, bertato, dan bernafas bau alkohol, bernyanyi tanpa alat musik. Meminta dengan memaki sambil menyelinap di antara para penumpang yang berdiri.

Ah, rasanya ingin mengutuk pemerintah, yang begitu payah dalam menyediakan mengapa sarana transportasi yang murah, cepat, dan nyaman.

“Kenapa Damri trayek Majalaya – Leuwi Panjang mesti naik di shelter?” seorang lelaki bertopi bertanya setelah bus menampik lambaian para penumpang di pinggir jalan.

Para penumpang di kursi belakang mendengar pertanyaannya. Entah siapa yang akan menjawabnya. Aku sendiri lebih asyik membaca buku kumpulan cerpen Haruki Murakami. Sesuatu yang tak bisa kukerjakan ketika menaiki bus tua yang menyedihkan itu.

“Jangankan naik, turun pun harus di shelter. Aturannya seperti itu.” Bapak tua berjaket hitam menjawab. “Kemarin ada penumpang yang mau turun di Baranangsiang, terbawa sampai shelter di Jelekong.” Katanya dengan nada meyakinkan.

“Masa seperti itu? Kemarin-kemarin penumpang bebas turun di mana saja?!” ibu-ibu berkerudung putih tampak keberatan.

“Itu masih masa percobaan,” lelaki yang duduk paling sudut menanggapi. “Saya naik bus ini sejak pertama diluncurkan. Waktu masih digratiskan, dan penuh intimidasi preman.”

Aku sedikit menurunkan buku. Lelaki yang duduk di sudut mewakili kursi belakang. Ibu berkerudung putih dan lelaki bertopi coklat ada di kursi sebelah kiri, sedang bapak tua ada deretan kursi kanan. Sepertinya mereka akan saling berbincang. Sedangkan sekumpulan ibu-ibu tampak asyik dengan gawai usai berswafoto. Penumpang yang duduk di bagian depan tampak mengantuk. Sedang yang berdiri terlihat resah dan pegal.

Tingkat mobilitas warga Majalaya begitu tinggi. Ada yang berdagang, bekerja, piknik, atau melakukan urusan lainnya. Aku sendiri pun hendak menonton pertunjukan seni di Padepokan Mayang Sunda. Sekian lama kami menabahkan diri menggunakan sarana transportasi umum yang menyedihkan. Maka jangan heran, setelah menteri perhubungan menghibahkan sepuluh armada BRT pada Dishub Jabar, bus ini selalu penuh.

“Coba lihat itu!” Lelaki di kursi pojok itu menunjuk dua lelaki kakar. Mereka mencegat bus yang hendak melewati Alun-Alun Ciparay.

Mata kami terarah ke depan. Meski tak bisa melihat secara utuh, tapi kami bisa mendengar gertakan, ancaman, hingga makian binatang.

“Iyah, Kang. Maaf, sekali lagi maaf…” imbuh kernet bus dengan suara bergetar.

Suasana terasa mencekam. Hawa pendingin pun mendadak seperti di dalam kamar mayat. Sepertinya sopir pun ikut merasa gugup. Hingga bus berjalan pelan meski di depannya tak ada kendaraan. Namun aku yakin sang sopir tidak gagal fokus, ketika dia mengacuhkan para penumpang yang melambaikan tangan di shelter.

Penumpang yang berkerumun didominasi orang tua dan anak-anak. Di hari Minggu, mungkin mereka hendak tamasya ke Bandung dengan mengendarai Bus Rapid Transit. Menaiki bus ini seolah menjadi suatu kemewahan. Sayang kemewahan seperti ini pun masih sulit mereka dapatkan. Mereka menatap kecewa ketika bus menjauh.

Bus melaju normal. Melewati elf Majalaya-Bandung yang transit untuk memperpanjang waktu ngetem. Para penumpang di dalamnya tampak pasrah. Angkot Ciparay-Tegallega berjajar tanpa penumpang.

“Mereka berdua itulah preman sialan yang melarang bus ini menaikan penumpang di shelter Ciparay!” Lelaki di pojok bus itu merasa geram. “Saya juga menunggu bus di shelter itu. Sudah dua bus lewat begitu saja. Maka saya naik angkot ke Majalaya, agar bisa meniki bus ini. Bukan apa-apa, saya ingin merasakan kenyamanan.” Katanya lagi.

“Jalur Majalaya sangat rawan. Salah bertindak bisa repot.” Bapak tua menangapi. “Yang protes, yang bertikai, sampai terjadi kekerasaan. Dan bukan berhadapan dengan satu kelompok saja.” Tutur beliau. Pangalaman hidup yang panjang terlihat dari gurat wajahnya.

Mataku kehilangan arah meneruskan membaca kalimat-kalimat di buku. Saat mata ini mematut pada lembaran keretas, aku malah menghitung trayek yang dilewati bus BRT Leuwi Panjang-Majalaya: Angkot Majalaya-Ciparay dan Ciparay-Tegallega, elf Majalaya-Bandung, dan kendaraan lama bus Bandung-Majalaya.

“Jika preman-preman sialan itu melempari bus ini dengan batu, lalu batunya mengenai kepala saya, saya akan turun dan berkelahi.” Lelaki di pojok kursi itu mengepalkan kedua tangannya. “Mereka hanya berani mengancam. Sekalipun melempar, pasti langsung kabur. Sebenarnya mereka takut ditangkap polisi.”

“Kalau perlu, bus ini harus dikawal polisi. Biar mereka tidak berani macam-macam.” Timpal ibu-ibu berkerudung putih. “Ini demi kenyamanan dan keselamatan penumpang.”

“Masyarakat sangat diuntungkan dengan adanya bus ini. Tapi para sopir angkot merasa dirugikan. Ada saja pro kontra.” Sahut bapak tua sambil mengerutkan kening.

Aku menurunkan buku. Kernet yang mungkin berusia di bawah seperempat abad itu melangkah ke belakang. Aku menyebit selembar lima ribuan. Ongkos lima ribu untuk perjalanan sejauh 32 KM tentu sangatlah murah. Bandingkan dengan bus lama yang dua ribu lebih mahal. Apalagi elf yang ongkosnya dua kali lipat.

“Kang, jangan mau diatur oleh preman. Bus ini milik negara. Ada apa-apa negara yang bertindak.” Lelaki di pojok itu menumpahkan kekesalannya pada kernet bus.

“Ya, mesti bagaimana lagi. Tadi juga diprotes,” jawab kernet berseragam itu sambil menagih ongkos.

“Aturannya penumpang itu naik dan turun di shelter. Tidak nyerobot bagian angkot yang ngetem dan menurunkan penumpang di mana saja.” Bapak tua tak tinggal diam. Mumpung berhadapan langsung dengan kernet sambil menyerahkan uang recehannya.

“Ya, harus bagaimana, ya… saling menghargai saja,” gagap sang kernet menjawab. Dia mesti sabar menghadapi para penumpang bus.

“Saya mau turun di Baleendah,” pinta ibu-ibu berkerudung putih.

“Paling turun di shelter depan Padepokan Giriharja,”

“Kalau shelter sekitaran Dayeuh Kolot?” tanya lelaki bertopi.

“Di depan pabrik Delfi,” kernet itu tangkas menjawab.

Sopir dan kernet BRT adalah karyawan Dishub. Entah dari mana asal mereka.

“Mereka berpendidikan tinggi. Tidak seperti sopir angkot. Banyak sopir yang tak punya SIM.” Ujar bapak tua yang terus memperhatikan kernet muda itu.

“Bu, maaf, sebentar lagi shelter Jelekong. Bisa maju…” pinta kernet dengan sopan.

Ibu-ibu kerudung putih pun berdiri. Berjalan pelan. Tangannya menggelantungi hanger. Kursi bekas diduduki ibu-ibu itu lantas diisi seorang remaja putri berpakaian ketat. Aroma sampo tercium dari rambutnya yang hitam terurai.

“Pernahkah kau melihat sikap sopan seperti itu dari kernet bus tua?” entah pada siapa bapak tua itu bertanya. Tapi ada yang menanggapi dengan senyuman. Namun sepertinya siapa pun yang mendengar pertanyaan, sepakat menjawab “belum, belum pernah sekalipun.”

Bus menepi di shelter. Ada tiga ibu-ibu berpakaian gamis hendak naik begitu pintu depan terbuka. Namun saat ibu-ibu berkerudung putih itu turun, terdengar bunyi klakson yang ditekan berulang kali. Sebuah elf berwarna merah bata menepi. Kernetnya marah-marah. Bus pun tak menaikan penumpang. Namun ketiga ibu-ibu itu pun tak sudi naik elf. Sopir elf memperlihatkan kekesalannya dengan terus menghalangi laju bus. Setiap kali bus hendak menyalip, elf yang bodinya banyak didempul itu selalu bergerak ke tengah.

“Dasar elf sialan! Perjalanan jadi lamban!” lelaki di kursi pojok kembali menggeram.

Selera membacaku langsung surut. Kututup buku, lalu memasukannya ke dalam tas. Pada posisi kursi tengah bagian belakang, aku bisa melihat tingkah aneh sopir elf. Berusaha memperlambat, dengan harapan bisa mengambil penumpang yang sedang menunggui BRT.

Sopir bus tak bisa berbuat banyak. Apalagi keadaan jalan sedang ramai. Setiap orang tentu ingin menikmati hari Minggu dengan jalan-jalan. Saking tak ingin melewatkan satu penumpang pun, elf bahkan tak mau menepi saat ada orang yang berdiri di tepi jalan.

Aku masih terdiam. Hanya mendengarkan sebagian dari para penumpang yang terus menggerutu karena khawatir bus murah ber-AC ini berhenti beroperasi. Kekhawatiran mereka menjadi kekhawatiranku juga. Sebab pemerintah selalu tidak konsisten dengan tindakan baik yang mereka lakukan.

Satu persatu para penumpang turun di shelter. Di mata mereka terpancar kebahagiaan usai menaiki BRT. Namun aku pun merasakan getar kekhawatiran jika kebahagiaan semacam ini tak berlangsung lama. apalagi setiap berpapasan dengan BRT, sang sopir melaporkan intimidasi yang sama. Bahkan sampai mengubah jalur.

Bus pun masuk pada tujuan terakhir, Terminal Leuwi Panjang. Seluruh penumpang bergerak maju. Satu persatu turun. Kernet mengucapkan selamat jalan pada para penumpang. Dan penumpang membalasnya dengan ucapan terima kasih.

Hingga tiba giliranku turun. Aku menepuk bahu sopir, “semoga bus ini tetap mengaspal ke Majalaya.”



“Aamiin, aamiin,” sang sopir mengamini. Lalu mengembuskan nafas lega.

Aku menuruni tangga. Menatap kernet muda. “Terima kasih,”

“Sama-sama, Pa. Selamat jalan.”

 

Majalaya, 30 November 2017

Y. Karyadipura
Ditulis oleh Yadi Karyadipura

    Penulis yang lahir di Bandung, 29 Mei 1987. Menulis dalam bahasa Indonesia dan Sunda