Topbar widget area empty.
Perihal Kiai Maktum kyai Maktum Tampilan penuh

Perihal Kiai Maktum

Tak ada yang bernyali besar, sekadar bertanya, apa dan mengapa Kiai Maktum tak pernah mau berhaji? Warga Lancaran merasa gentar, wajah mereka seperti selembar kain kafan saat bertatapan dengan Kiai muda itu. Pertanyaan lain yang sesungguhnya ingin diajukan warga Lancaran, termasuk seluruh santri, ialah mengapa Kiai Maktum yang dipilih oleh Kiai Burhan sebagai penerusnya setelah akhirnya Kiai sepuh itu dijemput Izrail, dalam gelap malam hari setelah adzan isya tujuh hari lalu.

 

Seingat warga Lancaran, satu-satunya putera Kiai Burhan diantara lima saudaranya hanya Kiai Maktum yang memiliki kebiasaan nyeleneh, bahkan apa yang dilakukan Kiai Maktum sejak kecil hingga saat ini tak dapat dijangkau dengan nalar, terlalu tak masuk akal. Perbuatan Kiai Maktum kerap mengundang tanya, misalnya waktu kecil Kiai Maktum suka berkelahi, menginjak remaja suka balapan, dan ketika dewasa seperti sekarang ini senang meludah sembarangan.

 

Malam hari selepas adzan isya, Kiai Maktum kedatangan tiga tamu lelaki, ketiganya datang dari kota, berdasi, bersepatu mengkilat. Bulan baru saja dipeluk awan. Belum mengucap apa-apa tiga lelaki itu, Kiai Maktum sudah mendahului, berucap dengan sindiran, “Saya bukan orang politik, kenapa kalian minta jalan mulus pada saya? toh  saya juga bukan dukun, gak mungkin bisa saya beri mantra agar kalian menang pemilu.”

 

Mendengar perkataan Kiai Maktum serupa itu, wajah tiga lelaki itu saling pandang dan semakin menggenapkan dugaan jika Kiai Maktum adalah orang yang tepat. Tidak ada keraguan dalam dada mereka. Kiai Maktum baru saja mempertontonkan kesaktiannya, sebuah kesaktian yang memang dicari oleh tiga lelaki itu.

 

“Saya gak sakti,” ujar Kiai Maktum tiba-tiba.

“Saya mohon doa restu Kiai supaya saya bisa jadi Bupati,” pelan-pelan lelaki berkumis itu mengatakan maksud kedatangannya. Menundukkan kepala saat ia berujar. Kiai Maktum berdehem, dan beberapa saat kemudian mengambil napas dalam-dalam.

“Kalau kamu?” Telunjuk Kiai Maktum mengarah pada lelaki kurus, licin kepalanya itu.

“Saya ingin jadi Gubernur,” jawabnya. Ia juga ikut menundukkan kepala.

“Kamu?” Kiai Maktum bertanya pada lelaki, dengan perut buncit, dan mata agak sipit.

“Saya cuma sopir yang mengantar mereka Kiai. Saya tak mau jadi apa-apa,” lirih sekali ia berujar. Pakaian lelaki ini memang rapi, sepatu mengkilat, dengan baju seragam sebagai seorang sopir.  Kiai Maktum mengangguk-anggukkan kepala.

 

Hening. Hanya terdengar jarum jam yang bergeser terus menerus, dan suara naluri mereka masing-masing. Kiai Maktum masuk ke dalam, beberapa saat kemudian keluar membawa dua cangkir air putih. Mereka berpikir, pasti air yang dibawa Kiai Maktum sudah dijapah mantra. Kiai Maktum melirik seraya berujar, “Ini cuma air biasa, minumlah. Bukannya kalian haus? Tapi dua cangkir ini tak akan pernah bisa menghilangkan rasa haus kalian, sama seperti kalian yang haus kekuasaan.”

 

Tanpa banyak bicara lagi, dua lelaki itu langsung meneguk air itu dengan cara paling tolol. Seorang sopir yang mengantar dua lelaki itu terdiam, bertanya sendiri, kenapa saya gak dikasi air? Tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan tingkah Kiai Maktum hingga mereka tercenung dan berpikiran macam-macam. Dengan sangat bertenaga, Kiai Maktum meludahi sopir itu sambil mengatakan, “Minum saja ludah saya itu, katanya kamu haus.”

 

Segera mereka berpamitan. Dalam mobil yang terus berjalan melewati rumah-rumah penduduk, si sopir itu mengerutkan kening tentang apa yang dilakukan Kiai Maktum barusan. Ia sungguh tidak paham, kenapa Kiai Maktum meludahinya? Dua orang lelaki di belakangnya tertawa terkekeh seperti merasa sudah pasti menang pemilu nanti.

 

Diludahi Kiai Maktum tidak membuat Maksan, si sopir itu meradang. Justru ia tersenyum sampai tiga tahun kemudian ia menjadi orang kaya. Ia bukan lagi sopir, ia punya sawah berhektar-hektar, sapi beribu-ribu, rumah megah. Ia juga akan segera berhaji. Terdengar kabar jika dua lelaki, mantan majikan Maksan itu kalah pemilu. Saat ini mereka dikejar polisi, menjadi buronan paling dicari sebab kabar yang sampai di telinga Maksan, mereka menjadi bandar narkoba setelah kalah pemilu.

 

Maksan kemudian menghubungkan ludah Kiai Maktum dengan kesuksesannya saat ini. Kisah kesaktian ludah Kiai Maktum menyebar dari waktu ke waktu, dari mulut ke mulut hingga orang-orang banyak berkunjung ke rumah Kiai Maktum, hanya dengan harapan Kiai Maktum mau meludahinya. Dengan ludah itu, mereka berharap mendapat kesuksesan yang sama seperti halnya Maksan bahkan bisa melebihi lelaki gendut itu.

 

Tidak semua orang yang datang mendapat ludah Kiai Maktum. Sebagian pulang dengan hampa harapan, sebagian pulang dengan wajah berlumuran ludah. Girang bukan kepalang saat mereka mendapat ludah sakti dari Kiai Maktum. Selain itu, tak pernah menerima Kiai Maktum setiap orang bersalaman, menyelipkan selembar uang pada tangannya. Serta merta ia bilang, “Saya tidak sedang jualan ludah.”

 

Setelah berbulan-bulan semakin banyak orang-orang datang ke pesantren Lancaran hanya untuk minta diludahi oleh Kiai Maktum. Saat itu pula Kiai Maktum menolak setiap tamu dengan tanpa alasan yang jelas. Tetapi pagi itu, selepas gerimis berhamburan dari langit keriuhan terjadi di depan rumah Kiai Maktum. Orang-orang itu datang membawa celurit, kapak, pentungan seperti siap menghabisi nyawa Kiai Maktum.

 

Terpakasa Kiai Maktum keluar, mengedarkan senyum pada mereka. Meminta mereka masuk ke dalam, berbicara baik-baik soal maksud kedatangan yang bikin gaduh itu. Sebagian menolak masuk ke dalam, hanya beberapa orang perwakilan yang mau masuk, berbincang dengan Kiai Maktum. Mereka mengikuti langkah Kiai Maktum dari belakang, tidak lupa celurit tetap mereka bawa, bersiaga takut Kiai Maktum mengeluarkan jurus-jurusnya lebih dulu.

 

Dalam ruangan yang agak sempit, mereka menyampaikan maksud kedatangannya di pagi lembab itu. Hanya satu perkara yang mereka persoalkan, ialah mengapa ludah Kiai Maktum justru menjadi petaka bagi mereka, tidak sebagaimana biasanya. Mereka menuntut Kiai Maktum bertanggung jawab telah membuat mereka sengsara gara-gara ludahnya. Mereka menginginkan Kiai Maktum kembali meludahinya, dengan catatan ludah itu bisa membuat mereka sukses seperti Maksan. Jika sebaliknya yang terjadi, mereka berjanji akan menghancurkan rumah Kiai Maktum itu.

 

Dengan tenang, dipandangilah wajah mereka satu persatu oleh Kiai Maktum. “Bukan ludah saya yang bisa buat kalian sukses, melainkan usaha kalian sendiri…” Tiba-tiba seseorang memotong perkataan Kiai Maktum, lantang orang itu mengatakan, “Tapi banyak yang sukses setelah mereka diludahi oleh Kiai, termasuk Maksan yang kini termasyhur kekayaannya. Sementara kami malah makin miskin.”

 

“Itu karena kerja keras, bukan gara-gara ludah saya.” Tegas Kiai Maktum, kemudian membuang ludahnya pada telapak tanganya, diusapkan pada betisnya. Mulutnya berkomat-kamit, tak lama setelah itu ia berujar pada mereka, “Sebaiknya pulang, bekerjalah dengan giat jika ingin kaya, jangan cari jalan pintas.” Mereka tertunduk, tiba-tiba saja mereka menitikkan air mata. Bersalaman pada Kiai Maktum, memohon ampun. Bara api dalam dada mereka seperti diguyur hujan, padam seketika.

 

Sebagian orang yang menunggu sejak tadi diluar tercengang melihat kawan-kawannya baru keluar dari rumah Kiai Maktum menampilkan wajah berair, tersedu-sedu mereka menangis. Sejak itu tak ada lagi orang-orang yang mengharap diludahi oleh Kiai Maktum. Dengan begitu pula, Kiai Maktum kembali membuka pengajian setelah beberapa bulan terpaksa dihentikan karena banyak tamu yang datang berbondong-bondong setiap hari, setiap menit, hanya untuk minta diludahi Kiai Maktum.

Pada suatu hari, Maksan datang lagi ke pesantren Lancaran setelah sekian tahun tak pernah menampakkan diri, sejak dirinya berstatus sebagai sopir politisi kala itu. Kini ia datang bukan sebagai seorag sopir, melainkan sebagai lelaki terkaya di desanya, dengan maksud kedatangan mengajak serta Kiai Maktum naik haji, semata-mata ini dilakukan oleh Maksan karena menurut lelaki gendut itu, ludah Kiai Maktum yang jadi pelantara menjadikannya orang kaya seperti sekarang.

 

“Saya tak butuh gelar haji, kamu saja yang naik haji,” kata Kiai Maktum setelah panjang lebar Maksan bicara..

“Apa tidak sebaiknya seorang Kiai itu memang harus berhaji?”

“Untuk apa naik haji jika tetangga saya saja disini banyak yang kelaparan, mending kasi pada mereka saja uangnya.”

 



Maksan terkesiap, wajahnya berubah seperti selembar kain kafan. Ia pamit pulang dengan perasaan teraduk-aduk oleh perkataan Kiai Maktum barusan. Satu tahun berikutnya, Maksan berangkat ke tanah suci diantar seluruh keluarga dengan suka cita. Maksan terkejut dan jantungnya hampir copot ketika di depan Ka’bah ia bertemu Kiai Maktum tersenyum kepadanya.

 

Tetapi aneh sekaligus membuat tanda tanya bagi Maksan, sebab setelah ia tiba di tanah air. Pada istrinya, Maksan bertanya, “Apa Kiai Maktum juga naik haji tahun ini?” Istrinya menjawab dengan gelengan kepala, dan mengucap, “Sewaktu abang di tanah suci, saya ke pesantren Lancaran sowan ke Nyai Anisa, istri Kiai Maktum itu. Dan saya melihat Kiai Maktum sedang mengadakan pengajian bersama para santri di masjid kala itu.”

 

Pulau Garam, Oktober 2017

Zainul Muttaqin
Ditulis oleh Zainul Muttaqin

    Lahir di Garincang, Batang-batang Laok. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Alumnus Ponpes Annuqayah, Sumenep-Madura. Cerpen dan Puisinya dimuat di pelbagai media nasional dan lokal. Tinggal di Madura.