Topbar widget area empty.
Hadiah Untuk Ibu Kado Ibu Tampilan penuh

Hadiah Untuk Ibu

Gelap telah menelan habis seluruh kilau jingga dari raut wajah langit senja. Namun arus lalu lintas masih saja padat merayap di jalan-jalan pusat kota. Belum juga reda. Di sebuah jalan di kawasan pertokoan, dua bocah lelaki nekat menyeberang di sembarang tempat.

 

“Mau mati, ya?!”

 

Seorang pengendara sepeda motor hampir saja menabrak salah seorang dari kedua bocah itu, Gabe. Namun Gabe nampak tenang-tenang saja. Ia bahkan tak menghiraukan teriakan si pengendara yang segera berlalu itu. Tetap girang wajahnya, dan santai saja ia berjalan melenggang di sebelah temannya, Midi.

 

Langkah keduanya kemudian berhenti di sebuah halte. Berdiri di antara orang-orang yang menyimpan setumpuk kerinduan pada rumah di balik raut wajah. Tempat duduk tak bercelah sedikit pun. Penuh sesak oleh penunggu bus yang pantas mendapat iba dan yang tak pandai memberi iba. Setelah sebuah bus kota bersinggah dan menaikkan hampir sebagian penunggu, barulah mereka berdua bisa duduk. Lanjut menunggu kedatangan sebuah bus lain yang akan mengantar pulang.

 

Beberapa kejap mereka duduk tanpa sepatah kata pun, Midi lalu bertanya. “Kira-kira, ibumu akan senang, tidak, dengan hadiah darimu ini?” Matanya tertuju pada sebuah bungkusan yang dipegang Gabe.

 

“Pasti senang.” Jawab Gabe dengan tersenyum.

 

Midi mengangguk samar. Mulutnya tertutup rapat. Sekejap kemudian ia merasa ada sesuatu hal lain yang mengusiknya untuk bertanya lagi. Namun ia ragu. Kiranya akan salah bertanya, dan malah membuat girang luntur dari wajah temannya yang berbadan besar itu. Tapi tetap saja, rasa penasarannya jauh lebih besar.

 

“Be…” Seru Midi lirih, mencoba yakin. Gabe yang duduk rapat di sebelahnya langsung menatapnya—menunggunya lanjut bicara. “Kau betah tinggal di kawasan itu?” Akhirnya, tertanyakan juga.

 

Gabe berpaling lagi ke depan. Tak lantas menjawab pertanyaan itu. Tatapannya menjadi kosong. Bayang-bayang wajah haru ibunya yang akan menerima hadiah yang sedang ia bawa, lenyap seketika dari dalam kepala. Ia bingung. Kata-kata, dan sebuah perasaan yang sedang tidur di dalam bilik hatinya, mau tak mau harus ia bangunkan dan lontarkan sebagai jawaban. Napasnya terhela pelan dan perlahan.

 

“Jelas saja aku tidak betah.” Jawabnya lirih.

 

Sedetik-dua detik, Midi terdiam. Namun pertanyaan belum habis dari benaknya. Masih ada dan entah berapa.

 

“Kalau begitu, kenapa kau dan ibumu tidak pindah saja dari situ? Atau, malah ibumu yang betah?” Midi mencerocos.

 

Tak pelak lagi, Gabe langsung menoleh dan mengernyitkan dahi. Menatap temannya yang agaknya tak pandai mengendalikan rasa penasarannya itu, di sebelahnya, dengan tatapan yang juga menyiratkan tanya. Namun mulutnya bungkam beribu-ribu bahasa.

 

Melihat tatapan itu, Midi menerka pertanyaannya nampaknya salah. “Maaf, Be, maksudku…”

 

“Tidak apa-apa.” Gabe memotong kalimatnya sembari memalingkan wajah ke depan. “Aku paham maksudmu”. Lalu menoleh sekali lagi, sekilas, menyungging senyum tipis.

 

“Aku pernah mengajak ibuku pergi meninggalkan kawasan itu.” Raut wajah Gabe berubah tenang. “Dulu, waktu aku mulai tahu kalau kawasan itu disebut lokalisasi; tempat yang hina; tempat yang dikucilkan banyak orang; tapi tempat yang indah untuk mereka yang mencintai dosa, aku selalu bersikeras membujuk ibuku pergi. Mengajaknya tinggal di daerah lain. Tapi, ibuku tidak mau.”

 

Pandangan Gabe lalu jatuh. Tertunduk dalam, sampai badannya membungkuk. “Sampai kemudian suatu hari, ketika aku mulai kesal sekali pada ibuku karena tak mau pindah dari tempat itu, aku tak sengaja membentaknya. Ia menangis, lalu mengatakan padaku: tidak mudah meninggalkan tempat itu. Sulit, sangat sulit”

 

Midi tertegun beberapa saat. Seperti orang hilang kesadaran. Hiruk-pikuk kendaraan yang lalu-lalang dan dengking-mendengking suara klakson tak mengganggu perhatiannya sedikit pun. Tatapannya melekat pada wajah Gabe. Ketika sadar pertanyaannya telah terjawab, ia bertanya lagi.

 

“Kenapa tidak mudah?”

 

Gabe menggelengkan kepala lalu menoleh sekejap ke arah Midi. Sambil menarik napas dalam-dalam, ia menegakkan badan. Lalu menjawab pertanyaan itu.

 

“Beberapa orang yang juga tinggal di kawasan itu pernah bilang padaku: sebelum aku lahir hingga aku berusia lima tahun ibuku termasuk salah satu primadonanya di kawasan itu. Namanya tersohor, dan tersiar kabar bahwa pelayanannya termasuk yang berharga tinggi di sana. Itu kemudian membuatnya dipertahankan mati-matian oleh kepala keamanan di sana. Tidak dibiarkan pergi. Namun kini, ibuku bukan lagi primadona, tapi ia tetap tak mau pergi. Kata pak Abdul, guru mengajiku: mungkin ibuku sudah tidak yakin bisa hidup di tempat lain.”

 

Midi yang tidak sadar mulutnya menganga, terlihat semakin antusias. Pertanyaan demi pertanyaan terus saja bermunculan di benaknya. Ia segera bertanya lagi, dengan pertanyaan hampir serupa.

 

“Kenapa tidak yakin?”

 

“Aku tidak tahu.” Samar-samar Gabe menggelengkan kepala. “Pak Abdul bilang: hati dan pikiran ibuku mungkin sudah gelap. Ia telah jauh dari cahaya Tuhan. Namun begitu, aku tetap harus bersyukur, di hati ibuku yang gelap itu, masih ada cinta untukku. Pak Abdul memintaku menjadi pelita untuk ibuku. Aku harus menerangi hidupnya. Makanya, kupikir, dengan memberikan hadiah ini hati ibuku mungkin akan terang benderang.”

 

Midi masih menganga. Ia kini kehabisan kata-kata. Sorot matanya pun kosong belaka. Sedang di sebelahnya, Gabe menatapnya dengan tersenyum lebar dan menggerak-gerakkan alis mata; naik-turun. Bertingkah seolah hendak menutupi getirnya kehidupan dari sorot matanya. Seolah-olah mampu bertahan, betapa pun susahnya.

 

“Kau tahu, Be?!” Midi tersadar. “Aku salut padamu. Kau tidak pernah malu dengan keadaanmu. Meskipun teman-teman di sekolah banyak yang menggunjingmu. Menghinamu.”

 

Gabe sontak bersungut mendengar itu dan segera membantah. “Siapa bilang aku tidak malu?! Kau salah. Aku malu sekali setiap kali teman-teman terang-terangan mengejekku. Tapi aku tidak akan diam saja. Siapa pun yang mencoba menghinaku, pasti kubikin babak belur.”

 

“Ya, ya.. itulah sebabnya tidak ada yang berani melawanmu di sekolah. Semuanya hanya berani menjelek-jelekkanmu di belakangmu. Kau jagoannya!”

 

Midi yang mencerocos membuat Gabe seketika tertawa. Beberapa orang di halte itu sampai teralih sekejap perhatiannya pada mereka. Lalu larut lagi pada kesibukan masing-masing, dan kejenuhan menunggu.

 

Arus lalu lintas jalan yang terentang di hadapan halte itu kini mulai agak lancar. Kendaraan-kendaraan melaju dengan kecepatan normal. Sudah tiga bus bersinggah, namun bus yang mereka tunggu-tunggu belum juga terlihat di kejauhan. Sementara malam terus bergerak. Tubuh yang tadinya gerah sudah mulai terasa lengket. Sebab debu dan polusi menghinggapi. Membuat semakin tidak betah. Namun apa daya, mereka tetap harus bersabar.

 

Lima belas menit kemudian, terdengar suara klakson berdengung dari arah kanan. Semua orang menoleh. Menatapnya seksama. Benar, bus yang dinanti-nantikan Gabe dan Midi akhirnya datang juga. Mereka beranjak mendekati bahu jalan, bersama penumpang lain yang juga hendak menaiki bus tersebut. Gabe memegang erat-erat bungkusan di tangannya. Melangkah pelan mengikuti Midi di belakang—masuk ke dalam bus yang telah berhenti.

 

Setelah menempuh setengah jam waktu perjalanan, Midi bersiap-siap turun lebih dulu. Tujuannya sudah dekat. Sebuah persimpangan jalan kecil menuju tempat tinggalnya segera terlihat. Sementara Gabe kembali harus tetap bersabar. Duduk tenang di dalam bus hingga sekitar dua puluh menit lagi. Barulah gilirannya sampai; di sebuah kawasan yang terletak di tepi barat kota. Paling tepi. Ia akan turun di persimpangan jalan yang sudah dikenal banyak orang; jalan menuju lokalisasi.

 

Sebelum Midi beranjak dari tempat duduk, Gabe berkata padanya. “Terima kasih, ya! Sudah menemaniku jalan-jalan di pasar, dan menawar harga barang ini dengan hebat.” Gabe menunjukkan bungkusan yang dipegangnya. “Kau terlihat seperti seorang ibu-ibu ketika tawar-menawar harga dengan pemilik tokonya tadi.”

 

“Kau ahlinya menghajar orang. Aku ahlinya membanting harga barang. Tidak salah kau mengajakku.” Saut Midi berkelakar, sebelum turun dari bus.

 

Setelah bus kembali menempuh waktu perjalanan selama hampir dua puluh menit, giliran Gabe sampai di tujuannya. Turun tepat di persimpangan jalan menuju lokalisasi, namun ia harus berjalan kaki sejauh empat ratus meter lagi. Ketika sampai di gapura masuk lokalisasi, ia tidak lantas menuju rumahnya. Beberapa rumah bordil, tempat karaoke, dan bar yang terhampar di kawasan itu, ia hampiri lebih dulu, untuk menanyakan: apakah ibunya sedang ada di salah satu tempat itu?

 

Di rumah bordil ketiga yang ia hampiri, seorang lelaki berbahu lebar dan berlengan kekar yang menjadi petugas keamanan di situ, memberitahunya. “Ibumu sudah keluar beberapa menit yang lalu. Mungkin ia pulang.” Seperti halnya kebanyakan orang di kawasan itu, lelaki itu bersikap ramah sekali padanya.

 

Gabe yang segera sampai di rumah langsung membuka pintu seraya mengucap salam dan berteriak memanggil ibunya. Bungkusan di tangannya ia sembunyikan di balik pinggang. Raut wajahnya semakin girang. Ia melihat jam dinding yang berdetak keras di ruang tamu yang hening: masih jam delapan. Tidak biasanya Ibu sudah pulang jam segini. Ia berteriak memanggil sekali lagi, lalu mencari sang ibu. Pasti di kamar.

 

Sekonyong-konyong ia membuka pintu kamar ibunya. Namun seketika itu juga, girang di wajahnya hilang begitu saja. Tubuhnya mematung di bingkai pintu. Dan ia menatap dalam sang ibu yang tengah berusaha menghapus tangis di sudut tempat tidur. Dengan raut wajah yang terlihat menahan sakit entah di bagian mana, namun memaksa tersenyum.  Ada apa gerangan? Pikirannya langsung menduga sesuatu yang buruk pasti telah terjadi pada ibunya. Namun entah apa. Setelah matanya menangkap lebam yang terpatri di sudut kiri bibir ibunya yang beranjak mendekatinya, iapun segera tahu apa yang telah dialami sang ibu. Tidak salah lagi.

 

Bungkusannya ia jatuhkan ke lantai. Sigap dan cepat ia melangkah menuju dapur, dengan raut wajah geram bukan main. Di belakangnya, ibunya tidak kalah cepat mengejarnya, kemudian menangkap tangannya yang sudah menarik sebilah pisau di dinding dapur.

 

“Lepaskan, Buk! Biar kucari dan kubunuh orang itu.” Pekiknya sambil meronta.

 

Jelas saja ibunya takkan melepaskannya. Sebab ini bukan kali pertama ibunya mengalami hal seperti itu: pulang membawa rasa sakit dan lebam seusai bertandang di rumah bordil atau tempat karaoke. Setiap kali mendapati ibunya begitu ia pasti akan membuat onar di beberapa rumah bordil dan tempat karaoke yang sempat dihinggapi ibunya. Mencari si pelaku.

 

Setahun silam Gabe pernah menghunjamkan pisau ke punggung laki-laki yang diduganya telah menganiaya ibunya yang masih cantik itu. Ketika laki-laki itu menangkap dan hendak memukulinya dengan punggung yang sudah berlumuran darah, pihak keamanan kawasan itu segera melerai. Dan nahasnya, kepala keamanan justru mengusir laki-laki itu dan mengancam: jika berani melaporkan kejadian itu ke polisi, atau berbuat balas kepada Gabe suatu waktu, nyawanya akan dibuat melayang. Namun setelah kejadian itu, Gabe tidak pernah tahu kalau ternyata ibunya mendapat peringatan keras dari kepala keamanan: jika hal seperti itu terjadi lagi, Gabe dan ibunya akan diusir dari rumah yang mereka tempati secara gratis itu.

 



Dapur itu menjadi penuh dengan suara tangisan ibunya yang telah memeluknya erat-erat. Meraung-raung dan memohon agar ia tidak menuruti amarahnya. Karena tak kuasa merasakan kesedihan sang ibu dan menahan gejolak di dadanya yang mulai menyesak, ia jadi turut terisak. Sekejap kemudian tubuhnya dan ibunya lunglai. Bersama-sama mereka jatuh terduduk di lantai. Pisau yang digenggamnya akhirnya terlepas juga. Lalu erat-erat ia membalas dekapan ibunya.

 

“Kata orang-orang, semua perempuan yang bekerja di rumah bordil pasti membunuh anaknya sebelum lahir, karena tidak tahu siapa ayahnya.” Gabe bicara sesenggukan. “Tapi Ibu tidak. Tiga belas tahun, Ibu tetap merawatku.”

 

Mendengar itu, ibunya memeluknya semakin erat. Deru napas mereka masih terdengar tersendat. Sambil berupaya meredakan tangisnya sendiri, Gabe lalu berkata lagi.

 

“Kata pak Abdul aku harus jadi pelita untuk Ibu. Aku harus menerangi kehidupan Ibu. Tadi, aku beli mukena untuk Ibu. Biar Ibu bisa salat.”

 

Perempuan tiga puluh tujuh tahun itu, benar-benar tak kuasa menahan haru yang sontak saja meledak di dadanya. Tangisnya tumpah semakin deras tak terkira. Tubuhnya lemas dan bergetar hebat. Dan tak henti-henti, dielus dan diciuminya kepala anaknya yang berhati tegar itu.

Ditulis oleh Arie Siregar

    Alumni Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang dan kini tinggal di Rantauprapat.