Topbar widget area empty.
Senja Merindu Malam Senja Merindu malam Tampilan penuh

Senja Merindu Malam

Cerpen Julie Binjie

 

Hujan yang semula lebat menyisakan rintik. Beberapa orang yang tadi berteduh di emperan toko, kembali melanjutkan perjalanan. Mereka berjalan hati-hati agar tidak menginjak air sehingga mengotori kaki bahkan pakaian. Ratih masih menunggu Koh Acay menutup tokonya. Sebelum toko itu tutup dia tidak bisa menyusun dagangan. Toko baju seragam sekolah itu tutup pukul lima sore. Setelah itu Ratih harus segera membersihkan sebagian area untuk dia berjualan—hingga malam.

 

Koh Acay melambaikan tangan sebelum akhirnya menghilang dengan sepeda motor. Laki-laki setengah baya itu sudah satu bulan terakhir menjaga sendiri tokonya. Karyawannya yang terakhir dia pecat karena ketahuan tidak melaporkan beberapa hasil penjualan. Sampai hari ini dia belum berhasil mendapatkan karyawan baru. Jarak rumahnya ke toko hanya tiga kilometer, itu sebabnya Koh Acay lebih senang membawa sepeda motor. Ditambah, mendapatkan parkir untuk roda dua lebih mudah, dibandingkan parkir untuk roda empat.

 

Dibantu Danar, Ratih mulai membersihkan emper toko yang kotor karena tempias hujan, termasuk dari beberapa alas kaki yang membawa lumpur, sehingga pekerjaan membersihkan emper sore itu sedikit lebih berat dan lama.

 

Saat seorang anak kecil datang Ratih minta untuk menunggu sebentar. Kertas pembungkus yang sebelumnya dia letakkan dekat daun, tidak ketemu. Dia tidak ingat telah memindahkannya.

 

“Kamu lihat kertas pembungkus, Dan?” Ratih langsung bertanya begitu Danar terlihat berjalan ke arahnya.

 

Danar mengangkat nampan berisi gorengan dan menarik barang yang Ratih cari. Selesai mebuang sampah, Danar akan memasang terpal untuk beberapa pembeli yang akan makan di tempat. Ia menyusun bangku, untuk mereka yang tidak suka lesehan, alasannya macam-macam, malas membuka sepatu atau kadang karena menderita asam urat.

***

 

Kehilangan selalu diikuti rasa tidak nyaman. Ribuan pertanyaan: bagaimana itu bisa terjadi? Apakah ada yang mencuri? Mengapa bisa begitu ceroboh dan tidak hati-hati? Atau apakah Tuhan memang sengaja menuliskan takdir ia lepas dari genggaman?

 

Baim merasakan kopinya pagi itu tawar dan cair. Potongan gorengan yang dijajakan di meja, terlihat tidak menarik. Dalam pikirannya masih teringat wajah kekasihnya yang semalam datang. Saat membuka pintu kamar indekos, Baim semringah menatap wajah ayu di depannya. Matanya penuh bintang dan bibir itu tak henti tersenyum. Tapi semua itu lesap, beberapa saat kemudian.

 

“Maafkan aku, Baim. Aku tidak tahu Bapak menerima lamaran itu. Saat aku bilang kita pacaran, Bapak tidak peduli. Dia bilang jika menikah dengan Pak Dodi, aku akan hidup senang. Aku tidak perlu lagi jadi buruh pabrik.”

 

Baim terdiam dan tak menyadari saat kekasihnya telah meninggalkan kamar. Dia hanya duduk, menatap kosong ke depan. Andai kekasihnya, yang kini jadi mantan itu tidak menutup pintu, pasti sudah banyak nyamuk berseliweran di kamarnya.

 

Baim tidak bisa memejamkan matanya sepanjang malam. Dia coba segala cara, kantuk tak kunjung datang. Pikirannya sibuk mengajak dia bekerja, mengingat, menyesal, merutuki dirinya yang selalu saja bernasib sial.

 

Dia tidak tahu pukul berapa ketika akhirnya lelah membuat dia tertidur. Itu tidur yang penuh mimpi buruk. Dia bahkan terbangun lebih awal dari biasanya. Saat dia tahu, tidak mungkin untuk melanjutkan tidur lagi, Baim bangun. Dia mencuci muka, mengganti kaos dan  celana lalu berjalan menuju warung kopi tidak jauh dari indekosnya. Gitar tua tidak lupa dia jinjing.

 

Kopi itu sudah dingin, masih ada setengah gelas. Laki-laki penjaga warung yang melihat Baim berbeda dari hari biasanya, tergelitik untuk bertanya.

 

“Mas Baim lagi patah hati, ya?”

 

Mendapat pertanyaan seperti itu Baim mengernyitkan dahinya. Dalam hati dia mengucapkan sumpah serapah, walau yang keluar hanya kalimat pendek, “Sok tahu Mas Adam ini.”

 

Baim memutuskan pergi, sebelum Mas Adam memberinya pertanyaan lain yang lebih menyebalkan. Dia memilih naik bus jurusan Kebayoran Lama dan turun setelah jembatan layang. Dari situ dia berjalan ke arah pasar. Dia memilih warung makan yang ramai dan mulai menjual suaranya.

***

 

Emper toko Koh Acay ramai pembeli. Ada yang dibungkus, ada juga yang memilih makan di tempat. Ratih terlihat sibuk melayani pesanan. Saat menyerahkan piring terakhir, suara pengamen itu menarik perhatiannya.

 

Laki-laki itu tidak terlalu tinggi. Kulitnya hitam karena sinar matahari. Karena lapak Ratih hanya buka sore hingga malam, laki-laki itu biasanya menjajakan suaranya setelah lewat waktu isya.

 

Pembeli yang sudah menjadi langganan Ratih, pasti sudah sangat kenal dengan suara yang menemani mereka makan. Sudah seminggu ini, laki-laki itu memilh lagu-lagu patah hati. Entah karena penghayatannya yang dalam, sehingga kesan menyayat itu juga terdengar di telinga.

 

Ratih sendiri merasakan sesuatu yang berbeda dari laki-laki itu sejak seminggu ini. Tiap malam tanpa Ratih sadari, dia seakan berharap laki-laki itu datang lebih awal dan bernyanyi lebih lama. Saat selesai dan membereskan sisa-sisa dagangan, tak jarang Ratih menyapu pandangannya—mencari. Ia berharap melihat sosok itu masih ada di sekitar.

 

Suatu malam Ratih menerima kejutan. Setelah menunggu sejak sore, laki-laki itu datang. Dia tidak menyanyi, hanya meletakkan gitar dan duduk di terpal yang kosong.

 

“Nasi pecel satu, Mbak. Lauknya telor dadar saja.”

“Baik, Mas.” Dalam hati Ratih ingin sekali melompat-lompat. Lampu yang menerangi emper tidak terlalu terang, sehingga wajah semringahnya tersembunyi, tapi seseorang melihat itu dalam diam.

 

Danar menerima piring dari Ratih dan menyerahkannya pada Baim. Laki-laki itu menyantap isi dalam piring seperti orang yang tidak makan seharian. Sebuah pemandangan yang takluput dari perhatian Ratih.

 



Baim menikmati apa yang dia makan. Pantas saja ramai, nasi pecel ini enak. Dia meminta tambah setengah porsi lagi. Baim melewatkan makan siangnya tadi karena beberapa pendengar di derah Permata Hijau memintanya terus bernyanyi, salah satu dari mereka ada yang sedang berulang tahun.

***

 

Baim menyibukkan dirinya dengan mengamen, dari pagi hingga malam. Dia tidak memberi ruang pada dirinya untuk memikirkan seseorang yang telah pergi. Bernyanyi, ternyata membantu  Baim melupakan situasi yang tidak menyenangkan. Setidaknya kopi Mas Adam yang setiap pagi dia nikmati sekarang terasa lebih nikmat.

 

“Hari ini ngamen ke mana, Mas?”

“Sepertinya ke Kebayoran, Mas. Abis ngamen bisa menikmati pecel enak.” Kalimat itu diikuti senyum lebar Baim yang menular. Mas Adam pun ikut tersenyum sambil manggut-manggut.

 

Sementara di sudut lain, Ratih menggoreng kacang sambil duduk melamun. Jika tidak diingatkan Danar, kacang itu bisa jadi menghitam.

 

“Jangan melamun sambil masak, Kak. Sore nanti Kakak bisa ketemu sama orangnya, kok.”

“Kamu ngomong apa sih, Dan. Kakak enggak mau ketemu seseorang kok.”

 

Danar tidak percaya, ia sudah sangat mengerti sifat kakak satu-satunya ini. Sejak kedua orang tua mereka tiada, Ratih telah menjadi ayah sekaligus ibu baginya. Dan sebagai adik laki-laki yang setiap hari bersama, perubahan hati kakaknya, sangat terang terbaca.

 

Danar sadar tanggung jawab yang Ratih pikul menjauhkan dia dari laki-laki. Walau sedikit cemas, tapi Danar senang kakaknya sekarang mulai membuka hati. Andai sosok yang mengisi hati kakaknya ini juga merasakan hal yang sama. Ah, kenal saja mereka belum, keluh Danar.

***

 

Hujan datang. Koh Acay terdengar mengomel kepada karyawannya yang baru saja masuk bekerja satu minggu yang lalu. Dari luar Ratih bisa mendengar sang karyawan membela diri.

 

“Bukan salah saya Koh, kemarin Koh Acay kan tidak bilang kalau baju yang di sebelah sana bukan untuk dijual. Ibu itu cari baju ukuran M, dan ukuran itu ada di sana. Saya mana tahu itu baju-baju rusak.”

 

Beberapa saat suara Koh Acay tidak terdengar, tidak berapa lama dia keluar dan melarikan sepeda motornya—pulang. Ia tidak peduli hujan yang masih jatuh, walau tidak sederas satu jam yang lalu. Entah apa yang ada dalam pikirannya—kesal karena lupa tidak memberi instruksi yang jelas atau karena pagi-pagi sudah mendapat tuduhan penipu dari salah satu pembelinya.

 

Karyawan itu akhirnya membereskan barang-barang yang berserakan. Tiga puluh menit lagi dia bisa menutup toko. Walau dalam satu minggu ini sudah tiga kali dia kena semprot Koh Acay, belum terlintas dalam pikirannya untuk berhenti. Dia memerlukan pekerjaan ini.

 

Ratih dan Danar mengangguk dan tersenyum saat karyawan itu pamit. Pertemuan mereka sementara ini sebatas senyum dan anggukan kepala.

 

Sambil membereskan beberapa wadah sayur dan sambal Ratih sesekali menoleh ke arah jalan. Satu dua mobil dan sepeda motor saja yang lewat. Pejalan kaki masih memilih berteduh di emper toko di sepanjang jalan. Kalaupun ada pejalan kaki yang memaksakan berjalan, mereka berlindung di bawah payung atau jas hujan.

 

Danar sudah selesai menyiapkan terpal dan kursi-kursi. Dia memperhatikan Ratih lamban sekali menyusun nampan dan baskom besar berisi dagangan hari itu. Padahal biasanya Ratih sudah duduk manis menunggu pembeli saat dia selesai menyusun kursi.

 

“Hujan, Kak, dia mungkin tidak ngamen hari ini. Sini kubantu susun piring-piringnya.”

 

Ratih tidak perlu menyembunyikan rasa malu kepada adiknya. Dia yakin Danar melihat pipinya memerah. Walau berusaha tersenyum, Ratih merasakan kekakuan di bibirnya.

 

Suasana canggung itu terselamatkan dengan datangnya seorang pembeli. Anak kecil ini selalu jadi pelanggan pertama  Ratih. Dia selalu membeli dua bungkus dan segera berlalu setelah menerimanya dari Ratih. Entah di mana dia tinggal, karena Ratih tidak pernah melihatnya di sekitar itu.

 

Danar berniat mengambil tambahan air untuk mencuci gelas saat terdengar suara benturan keras dan rem yang diinjak mendadak. Hujan sudah sempurna berhenti. Beberapa orang tampak berlari menuju arah suara itu. Rasa penasaran membuat Danar ikut mendekat, terlalu ramai sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas pemandangan di depannya.

 

“Ada apa, Bang?” Danar bertanya kepada seorang laki-laki yang berjalan dari arah depannya.

“Kecelakaan. Pengamen itu langsung menyeberang saat hujan reda. Dia tidak lihat mobil dari arah kirinya.”

 

Danar dengan segala kekuatannya menerobos barikade manusia itu. Saat berhasil melewatinya, satu sosok tergeletak di sana. Gitar hancur tak jauh dari tubuhnya yang basah, oleh darah dan sisa air hujan. Detik berikutnya, wajah sedih Ratih yang terlintas di benaknya.

 

Sidoarjo, 2019                                                    

 

Tulisan Julie Binjie telah termaktub dalam puluhan antologi puisi dan cerpen. Buku solo pertamanya berupa antologi cerpen lahir pada 2020 dengan judul ‘Meminjam Waktu.’ Siswi Kelas Puisi Online Angkatan 07, dimentori Muhammad Asqalanie eNeSTe. Bergiat belajar di COMPETER (Community Pena Terbang), Kelas Puisi Alit (KEPUL), kini berdomisili di Sidoarjo. Email : juliebinjie@gmail.com, IG: amiziryulida.

 

Photo by David Besh from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: