Topbar widget area empty.
Sastra yang Merembes: dari Lisan ke Teks/Buku Menuju Digital sastra digital Tampilan penuh

Sastra yang Merembes: dari Lisan ke Teks/Buku Menuju Digital

Opini Eko Setyawan

 

 

Polemik sastra dalam bentuk digital semakin hari semakin memanas. Pro dan kontra terjadi ketika membicarakan sastra dalam bentuk digital. Seperti bola panas yang meluncur, polemik itu menggelinding dan menyebabkan pertentangan pandangan, baik yang bersifat pribadi mau maupun antar kelompok/kubu.

 

Secara garis besar, pro kontra ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan. Dua pandangan mengenai sastra digital yakni: (1) kelompok pro, beranggapan bahwa medium sastra yang berupa bahasa bisa bergeser menjadi bentuk digital karena mengikuti perkembangan zaman. Di era yang serba praktis, pergeseran sastra ini tak bisa terelakan. Menilik fakta perkembangan alat elektronik ini, khususnya gawai, maka sastra digital dianggap bentuk praktis yang tidak perlu membutuhkan bentuk buku. Dalam satu gawai bisa meliputi banyak teks sastra. Sastra elektronik bukanlah sekadar karya sastra yang difasilitasi lewat media teknologi. Sastra elektronik adalah karya sastra yang hanya bisa muncul di dalam ruang digital sebab akses kepada keseluruhan konfigurasi estetiknya terikat kepada lingkungan digital.1 Di sisi lain, penerbitan konvensional/buku mengalami beberapa masalah salah satunya yakni rendahnya laba dan royalti bagi penulis. Selain itu, pembaca juga seringkali mengalami kesulitan mengakses bacaan dengan beragam variasi.2

 

Sementara di lain pihak, (2) kelompok kontra beranggapan bahwa sastra digital akan mengubah esensi sastra itu sendiri. Kualitas sastra ditakutkan akan menurun atau semakin rendah mengingat tidak adanya kurasi yang memadai. Alhasil, sastra harus berbentuk buku. Platform digital yang memuat teks sastra dianggap membahayakan iklim sastra. Telaah sastra digital yang rendah dan kemudahan akses ditakutkan secara tidak langsung akan menurunkan kualitas dari karya sastra. Ruang kebebasan berekspresi yang disediakan dunia maya disinggung oleh Mahayana (2016). Mahayana khawatir bahwa maraknya sastra siber dikhawatirkan bisa mencemari kualitas sastra Indonesia. Alasan kekhawatiran Mahayana didasari pada tidak adanya seleksi dari editor atau kurator sastra atas karya yang melimpah terbit di internet. Sebelum adanya internet, setiap karya sastra melalui proses penyeleksian layak tidaknya untuk terbit di majalah sastra, jurnal sastra, atau koran.3

 

Terbaru, pembahasan sastra digital masuk dalam butir putusan Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia III (MUNSI III) yang diselenggarakan pada 2-5 November 2020 di Jakarta. Sastra digital dengan menjadi salah satu poin pembahasan yakni masuk dalam salah satu rekomendasi mengenai bagian pengembangan sastra di mana poin rekomendasi itu berbunyi Badan Bahasa atau lembaga lain mengoptimalkal ekosistem digital dalam pengembangan sastra di Indonesia4.

 

Dalam musyawarah itu, sastra digital dijadikan poin rekomendasi. Hal ini menunjukkan bahwa peranan sastra digital cukup vital di era sekarang ini. Terlepas dari pro kontra yang ada. Sastra digital adalah tawaran atau alternatif transformasi bentuk sastra. Sastra berkembang mengikuti arus, sehingga untuk saat ini sastra juga tidak lepas digitalisasi. Salah satu digitalisasi sastra yang cukup tampak adalah digitalisasi dan katalogisasi yang dilakukan oleh Esha Tegar Putra dalam kerja pengarsipan di Dewan Kesenian Jakarta5.

 

Adapula sastra digital/elektronik yang kini marak baik di website menulis seperti Kwikku, Wattpad, Storial, dan website lainnya serta sastra yang ditulis di media sosial seperti Facebook, Instagram, serta Twitter. Bahkan Joko Pinurbo telah menerbitkan buku puisi-puisi pendek yang ia unggah di twitter dengan judul Haduh, Aku di-Follow6, serta Goenawan Mohamad yang juga menerbitkan buku yang bersumber pada cuitannya di Twitter juga yakni Pagi dan Hal-Hal yang Dipungut Kembali.7

 

Jika ditilik dari perkembangan tersebut, maka sastra digital sudah selayaknya untuk dipertimbangkan di kancah sastra kita. Hal ini tak lepas dari sastra mengenal berbagai bentuk dan selalu mengalami perubahan.8 Perubahan bentuk dari buku ke digital khususnya sudah sepantasnya terjadi karena mengikuti perkembangan zaman. Hampir setiap orang, saat ini, sudah memegang gawai sehingga sastra digital ada baiknya dimanfaatkan karena telah meruangi akses sehingga dapat dibaca secara luas.

 

Penolakan yang ada haruslah berkaca pada masalah-masalah yang dihadapi ketika buku dicetak. Oplah buku dan royalti yang minim bukankah menyebabkan masalah. Bahkan jika tidak laku di pasar, buku akan diobral sedemikian murah bahkan dihancurkan kembali menjadi bubur kertas. Kenyataan semacam ini perlu ditinjau sehingga sastra digital bisa menjadi alternatif. Pertimbangan kualitas karya dapat diperhitungkan ke depan karena tidak sedikit pula karya-karya sastra digital juga layak dibaca. Sebagai pembanding, berapa banyak penjualan buku-buku sastra serius dibandingkan buku-buku cerita (sastra) populer? Di lapangan, kita tahu buku cerita (sastra) populer jauh lebih laku terjual dibanding buku sastra serius. Sehingga tidak ada salahnya sastra bertranformasi ke dalam bentuk digital.

 

Memang, ketika membaca sastra digital, kita tidak bisa membaui aroma kertas. Kita tidak bisa secara cepat kembali ke halaman tertentu. Tidak bisa menggarisbawahi atau menandai kalimat-kalimat tertentu. Tapi kepraktisan bisa dimanfaatkan. Ruang dan waktu membaca lebih efisien karena bisa memanfaatkan waktu di mana pun asal gawai digenggaman. Hal ini membantu dalam menyelami teks-teks sastra. Sehingga sastra akan bisa dinikmati sebagaimana mestinya.

 

Pertentangan itu sebenarnya tak berdasar. Mengingat sastra yang lentur selalu bertansformasi selama masih bermedium bahasa. Semula, sastra lisan dimiliki sebagai sastra yang tingkatnya paling tinggi. Cerita-cerita rakyat dikisahkan secara turun-temurun. Semula ajeg, lantas bertambah dan berkurang karena penuturnya semakin banyak. Melalui cerita-dengar-cerita-dengar, cerita rakyat berkembang di mana rakyat memahami cerita lisan itu sebagai sebuah nilai. Sastra lisan adalah hasil karya dari proses tradisi lisan sehingga proses lisanlah yang melatarbelakangi adanya sastra lisan9. Cerita rakyat atau foklor tumbuh meski dengan beragam versi.

 

Tipe dan karakteristik pencerita/informan foklor berbeda-beda10. Ada yang memahami cerita secara sepotong-sepotong, ada yang menyampaikan awal cerita dengan runtut namun tidak sampai akhir cerita, hingga ada pula yang bercerita ngawur atau asal-asalan bahkan sampai ke cerita versi baru. Namun ada pula yang bercerita secara lengkap, asli, dan berkualitas meski sesungguhnya sastra lisan tidak memiliki kebakuan.

 

Karena tidak adanya kebakuan tersebut, lantas sastra bergeser ke bentuk teks bacaan. Medium sastra merembes, yang semula bahasa lisan menjadi teks. Entah kapan pertama kali sastra teks/tulis masuk di Indonesia, namun hal ini sudah dipahami bahwa teks sastra pertama kali tertulis dalam bentuk karas dan lontar, belum buku. Lantas seiring berkembangnya waktu, sastra tulis/teks tertulis di atas lembar-lembar buku. Jauh sebelum kata sastrawan ada, sudah lebih dulu dikenal nama-nama pujangga karena menggubah teks-teks sastra untuk kerajaan atau yang berisi petuah dan petunjuk bagi orang lain. Sastra telah bertrasformasi dari lisan menuju teks atau tulisan. Hingga akhirnya, berkembanglah sastra dan lahirlah sastrawan-sastrawan.

 



Di Indonesia, sastra teks dikenal luas setelah munculnya Penerbit Balai Pustaka yang melahirkan sastra Indonesia. Meski jauh sebelum itu sudah ada teks sastra lain misalnya syair, gurindam, dan hikayat bahkan serat dan babad. Teks-teks ini penyebarannya belum terlalu signifikan namun dipahami sebagai petuah-petuah. Penyebaran secara luas teks sastra dalam bentuk buku pada awal mula tentu tak bisa dipisahkan dari Penerbit Balai Pustaka. Lalu berkembang seiring berdirinya Pujangga Baru.

 

Hingga sekarang, buku-buku sastra mudah ditemui meskipun banyak permasalahan di dalamnya. Buku sastra dicetak dan diterbitkan oleh penerbit besar dan penerbit mandiri. Penerbitan ini sebenarnya juga mengalami kendala karena penerbitan buku saat ini berdasarkan dengan selera editor bahkan ada pula yang tanpa proses seleksi dan langsung terbit begitu saja. Jarang ada penjaringan buku sastra berkualitas. Dewan Kesenian Jakarta adalah salah satu yang melakukan penjaringan ini meski bukan berfokus untuk penerbitan melainkan sayembara untuk menentukan dan memilih novel yang dianggap bagus.

 

Terlepas dari hal itu, kini sastra telah merembes ke bentuk digital, tidak hanya lisan dan tulisan dalam buku. Fenomena sastra digital/cyber/elektronik di Indonesia agaknya membutuhkan perhatian yang lebih besar lagi karena dipercaya dapat berkontribusi bagi perkembangan kesusastraan di Indonesia. Tidak hanya itu, keberadaan sastra cyber sendiri dipercaya sebagai refleksi realitas dinamika masyarakat yang ada saat ini. Masyarakat yang senantiasa bergerak ke arah yang lebih modern ikut memberikan kontribusi bagi kemunculan sastra cyber dengan mengikuti pesatnya perkembangan teknologi komputer dan internet yang ada.11

 

Medium sastra yang berupa bahasa senantiasa bertransformasi dan bergerak mengikuti zamannya. Bermula dari bahasa lisan, sastra bergeser ke dalam bentuk teks, lantas sekarang di era teknologi ini sudah sepantasnya sastra juga merembes ke bentuk digital. Transformasi bentuk sastra ini dapat dikatakan tidak terlalu mengganggu kualitas sastra mengingat medium sastra tetap berpusat pada bahasa. Dengan demikian, sastra sudah sepantasnya merembes ke dalam bentuk lain agar membaur dengan zaman serta agar tidak dianggap kuno.

 

Pro kontra ini agaknya jadi cerminan bahwa dalam perkembangan zaman selalu ada pihak pro dan kontra. Ada yang menolak perkembangan dan ada yang mendukung. Dunia sastra tidak luput dari hal itu. Namun positifnya, sastra akan terus dibicarakan meski dalam balutan pertentangan. Pertentangan ini akan mendorong lahirnya sastra yang berkualitas baik dalam bentuk buku maupun digital. Mereka yang menulis teks sastra yang luarannya dicetak dalam bentuk buku akan berupaya membuktikan bahwa buku sastra memiliki kualitas yang baik. Demikian pula mereka yang menulis sastra dalam bentuk digital tentu akan menggoyahkan kebakuan buku sastra dengan menunjukkan bahwa kualitas sastra digital tidak kalah baik dari segi isi dan kualitasnya. Lantas, keduanya akan sama-sama menunjukkan kualitas masing-masing.

 

Sumber Bacaan:

1Dipa Nugraha dan Suyitno. (2020). Bagian yang Hilang dalam Pembicaraan Akademisi Indonesia tentang Sastra Siber. Jurnal Komposisi. 21 (1), 17-30.

2Marzuqi, Abdillah. (2020). Sastra Digital Bukan Dosa. Koran Digital Media Indonesia. https://mediaindonesia.com/fokus/360859/sastra-digital-bukan-dosa diakses Kamis, 19 November 2020

3Maman S. Mahayana. (2016). Peta Sastra Indonesia Mutakhir. Prosiding Seminar Nasional Kesusasteraan Indonesia Mutakhir, 1–11. Depok: Universitas Indonesia.

4Catatan oleh Gunoto Saparie dari penyelenggaraan Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia III (MUNSI III) dipublikasikan di koran Jawa Pos dengan judul  Setelah Hiruk Pikuk Munsi III. https://www.jawapos.com/minggu/halte/15/11/2020/setelah-hiruk-pikuk-munsi-iii/ diakses Kamis,  19 November 2020

5Aktifitas pengarsipan atau digitalisasi sastra ini dapat dilihat di akun Instagram Esha Tegar Putra @esha_tegar

6Buku Joko Pinurbo, Haduh Aku di-Follow diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada tahun 2013. Isi buku berasal dari puisi-twitter (puitwit) @jokopinurbo.

7Buku Goenawan Mohamad, Pagi dan Hal-Hal yang Dipungut Kembali diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2011. Isi buku bersumber pada twitter @gm_gm.

8Rene Wellek dan Austin Warren. (2016). Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. (2016: 13)

9Suwardi Endraswara. (2018). Antropologi Sastra Lisan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. (2018: 2)

10Suwardi Endraswara. (2009). Metodologi Penelitian Folklor: Konsep, Teori, dan Aplikasi. Jakarta: Buku Kita. (2009: 12)

11Hilda Septriani. (2016). Fenomena Sastra Cyber: Sebuah Kemajuan atau Kemunduran?. Makalah dipresentasikan dalam Seminar Nasional Sosiologi Sastra di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia pada tanggal 10-11 Oktober 2016.

 

Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017) & Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020). Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018 serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa. IG: @setyawan721, surel: esetyawan450@gmail.com

 

Photo by Kaboompics .com from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: