Topbar widget area empty.
Rindu Paling Purba Rindu Paling Purba Tampilan penuh

Rindu Paling Purba

Cerpen Sri Lima Ratna Ndari

 

Sungguh serba sedikit yang kuketahui tentang dirimu, bagai ribuan bahkan jutaan keping potongan puzzle. Bukan puzzle biasa, ketika membentang bersambung rahasia berikutnya dan di antara ribuan keping puzzle itu kau berada entah, aku tersesat.

 

“Bertanyalah…” katamu ketika garis cakrawala jingga semburat di ujung pantai. Aku menggeleng, tak ingin jingga semakin membara ditelan malam. Birunya laut telah merupa buih dan hitam. Kau mengajakku menjauhi pantai. Langit mulai bergemintang, satu dua kerlipnya menerangi jalanku, jalanmu.

 

Setiap puzzle menampilkan bentuk utuhnya sendiri-sendiri, tak ada puzzle yang sama. Masing-masing memiliki kekhasannya yang tak mungkin sama satu dengan yang lain.

 

“Biasa aja, tidak ada yang khusus tentang aku,” sergahmu, waktu kuungkapkan penilaianku tentangmu.

“Everything about you so special…”

 

Lalu kau mengalihkan pembicaraan tentang arah dan angin yang tak kuperlukan sama sekali, hanya untuk mengalihkanku. Seolah penilaianku tentangmu tak penting dan tak perlu dibahas sama sekali. Sementara buatku ini amat penting, sama pentingnya dengan ‘menemukanmu’ setelah berpuluh tahun sejak terakhir kita bertemu. Dan puzzle dirimu harus kuselesaikan, apa dan siapa dirimu kini.

 

“I’m not a puzzle, not for you and everyone,” tegasmu.

 

Aku tak perduli apakah orang lain menganggapmu puzzle atau bukan, yang aku tau bahwa sejak pertama kita bertemu kembali, aku begitu penuh pertanyaan, “Kemana saja kau selama ini?”

 

“Ada,” jawabmu sambil menyebutkan sebuah tempat yang kutau hanya lewat peta saking jauhnya.

“Apa saja yang kau lakukan?” tanyaku lagi.

 

Karena sepanjang tahun-tahun kita tak pernah jumpa tersebut, sama sekali tak kudengar kabar tentang dirimu, sehatkah, bahagiakah, dari bibir teman-teman kita. Terpikir untuk menanyakanmu pun tidak, dan pertemuan-pertemuan sesama alumni kosong dari hal-hal tentangmu. Kau hilang bak ditelan bumi. Aku abai tentangmu. Kau adalah masa kanak-kanak yang terlupakan. Namun ketika aku berusaha mengingatnya, aku tersadar betapa hatiku telah tertambat begitu rupa semenjak dini. Dengan alasan yang entah.

 

“Sudah lah, lupakan. Beritahu aku tentang dirimu saja, tak usah tentangku.”

“Kenapa begitu?”

 

Sebenarnya tentangmulah yang paling ingin kuketahui kini, melebihi dari apapun.

 

Terkadang takdir menjadi bulan-bulanan, menganggap ia begitu kejam yang tak mengizinkan kita untuk sekedar bertemu di masa-masa belia dahulu. Sekedar tuk bertukar kisah tentang negri yang kita tempati untuk menuntut ilmu, berkeluh kesah tentang kisah kawan-kawan dan guru-guru kita di sana. Serta ilmu-ilmu yang baru kita peroleh setelah memisahkan diri dari dekapan orangtua.

 

Tapi, tiada lah ada artinya lagi, tak sepadan dengan pertemuan yang takdir sediakan untuk kita berdua. Segala keluh dan rindu yang menjelanak di dalam memori alam bawah sadar pupus, sirna oleh pertemuan kita.

 

“Aku tak kan lama,” katamu.

“Aku tau…”

 

Melalui WA kau sudah mengutarakan kenapa kau singgah, kapalmu hanya butuh sedikit perbaikan, tak kan butuh waktu lama, mereka akan memanggilmu untuk kembali pulang. Kotamu tak lagi di sini, kau hanya lahir dan menamatkan Sekolah Dasar di sini, selebihnya kau ada di hampir semua tempat…

 

Aku tak ingat sudah berapa ribu malam sejak mimpi-mimpi tentangmu tak lagi mengganggu

tidurku. Senyummu yang begitu ramah ingin menolongku untuk berjalan di atas bebatuan licin di tengah aliran air jernih di suatu ketinggian entah di mana. Deretan gunung dan kabut putih terbentang di hadapan sana, kau mengulurkan tangan padaku, aku meraih tangan itu, berjalan di sampingmu, menyeberangi air, tidak setinggi lutut. Aku hanya amat ragu dan takut untuk menyeberang, tiada seorangpun di sana, hanya kau yang datang entah dari mana. Lalu kita berjalan ke balik kabut, dan aku tersadar. Kau begitu jelas. Padahal aku tak pernah bertatap muka denganmu semenjak pertemuan tanpa kata ketika masih di SMA dan kau sudah di rantau.

 

Aku tak tau entah ide dari mana yang menerbitkan namamu pada akhir mimpiku itu. Yang kutau, aku mendapati kau lelaki yang ada di mimpiku yang tak hanya sekali hadir dalam tidurku. Aku tak pernah berusaha berspekulasi dengan lelaki-lelaki lain yang mirip dengan yang ada di mimpiku, hanya kau satu-satunya yang ada di benakku. Entah kenapa…

 

“Itu memang dirimu, tak diragukan lagi…” gumamku.

Kau tengadah dari hp yang kau buka karena ada notifikasi WA yang masuk

 

“Apa…”

 

Aku menggeleng…tak usah kau tau apa yang barusan kugumamkan.

 

“Jadi…kapan kau berangkat?”

“Lusa. Kenapa? Ayo lah ceritakan semuanya, aku masih ada waktu sampai tengah hari nanti.”

“Memangnya mau kemana?”



 

Kau jarang pulang, aku maklum, keluargamu di sini juga merindukanmu, bukan aku saja. Aku

harus mengalah.

 

“Ke rumah keluarga, ada yang perlu dibicarakan.”

“Makan siang dulu lah, aku tak sempat memasak buatmu, aku kurang sehat…”

 

Aku tak boleh terlalu terbuka soal sakitku, tak ingin merecokimu dengan keluhan-keluhan sakitku yang telah menggerus tubuhku hingga kurus kering. Tak ingin menyita waktumu yang singkat.

 

“Aku tak lapar, ceritakan tentang dirimu Han…”

 

Tiga hari lagi kau harus kembali, ke laut lepas. Aku harus mulai dari mana…tak mungkin kulepaskan semua tentang hatiku yang begitu ingin tau tentangmu, hidupmu. Aku bertanya-tanya sendiri seolah kehidupanmu begitu penting buatku kutahui. Dan aku malu sendiri ketika pikiranku berkata, buat apa?

 

“Untuk apa?” ya Tuhan keceplosan!

“Aku rindu padamu, pada caramu bercerita seperti waktu anak-anak dulu. Kau dulu cengeng, tapi nggemesin.”

 

Aduh…kok jadi tentang aku, segitunyakah aku…seberapa penting di matamu?

 

“Kau putih, bersih, rapi, aku suka, ingin bermain denganmu selalu Gan”

 

Hidup bukan tentang apa yang kita inginkan dan apa yang kita raih di dunia. Hidup adalah tentang memahami diri kita sebagai hamba. Hidup adalah mempersiapkan bekal untuk bertemu dengan Sang Pencipta. Dunia hanyalah fatamorgana.

 

Sebuah kata bijak yang berhasil membuatku sabar selama tahun-tahun tanpamu. Bukan kehilangan, ini bukan rasa seperti itu, sebab kita tak pernah bersama.

***

 

Surat-suratmu tiba tepat waktu, membawa aroma wangi yang mampu menyumbat kepala dan pikiranku. Aku membawanya lembar demi lembar. Ketika itu belum ada hape. Kita tak pernah kehilangan kata-kata, selalu ada yang dibahas. Padahal tak pernah bertemu semenjak tamat sekolah Dasar dan sekali pertemuan di simpang jalan ketika aku SMA.

 

Lalu kau tiba di ujung pintu rumah, dari kota yang jauh tempatmu belajar. Aku belum pernah ke sana, keloknya membuat telingaku berdenging, seolah kendaraan yang berderit di aspal ada di depanku. Aku nihil ketika itu. Mungkin kau kecewa, lalu berlalu tanpa surat lagi setelah itu.

 

Aku menyusulmu kemudian, kau yang nihil. Rinduku terbelah oleh kesibukan kuliah dan ini itu. Dan daun-daun flamboyan serta akasia di kanan kiri kampus luruh beserta bunga-bunganya yang kemerahan, membuatku lupakanmu. Ma’af…sekarang baru kusadari itulah awal kita terpisah semakin jauh.

 

“Aku lupa.”

 

Semuanya? Masakan tidak ada yang kau ingat?

 

“Coba diingat-ingat lagi, untuk apa sebenarnya kau mendatangiku ketika itu?”

 

Kau terdiam, menatapku lekat, ada aku di matamu, aku geragap…

 

“Kau sendiri untuk apa menyusulku?”

 

Aku diam, mungkin wajahku berubah ungu, tak mungkin kusembunyikan di bawah meja, kau masih menatapku, menanti jawaban.

 

“Aku pulang di saat pendemi, selain karena kapalku, aku juga rindu…”

 

Tidak ada yang mengalahkan rindu, seperti kata pujangga, layaknya dendam rindu juga mesti dibayar tuntas. Ini rindu paling purba. Aku kehilangan kata-kata, tak tau harus mulai dari mana, menanyakan tentang hidupmu apakah bahagia. Tak perduli sakitku, tak perduli meski waktuku akan berhenti. Dan aku berhasil menyembunyikannya, kau luput menanyakan wajahku yang kian kusam.

 

Manik Hataran, Oktober 2020

 

Photo by Ann H from Pexels
Ditulis oleh Sri Lima Ratna Ndari

Alumnus Bahasa Inggris USU. Lahir di Pematangsiantar, 14 September 1975 dan tinggal di Manik Hataran Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Sumatera Utara

%d blogger menyukai ini: