Topbar widget area empty.
Catatan Terakhir Si(Pelacur)ti catatan terakhir siti Tampilan penuh

Catatan Terakhir Si(Pelacur)ti

Cerpen Nuzul Ilmiawan

 

Lima tahun yang lalu, orang-orang mengenalku dengan sebutan Si Cantik, Si Jalang, Si Merah Delima, Si yang tak boleh dibicarakan di pos ronda, Si yang dibicarakan di kala arisan, Si yang dibenci Ibu-Ibu, Si yang Itu, dan lain sebagainya. Tetapi sebutan yang dibikin oleh Mak Fadli, Si Perempuan yang Suka Mendapatkan Uang dengan Melacur, adalah favoritku. Si Merah Delima bagus juga, tetapi apa gunanya bila itu tak ada kaitannya dengan diriku, tidak menggambarkan identitasku sama sekali selain keahlianku yang selalu berhasil membuat kelamin pria-pria bajingan menjadi merah, semerah delima.

 

Sejatinya aku memang suka bermain di kasur bersama pria. Oleh sebab itu, mengapa aku tidak mencari uang dengan melakukan itu saja setiap malam. Uangnya kudapat, akunya pun senang. Ya meskipun tidak jarang aku suka kesal setiap habis bermain di kasur, mereka semua cupu. Wajar, mayoritas pelangganku bapak-bapak, satu duanya paling anak muda pecundang yang tidak punya keberanian untuk memikat gadis seusianya, mereka larinya kepadaku.

 

19 tahun adalah usia yang normal bagi perempuan sepertiku kala itu untuk menjadi seorang pelacur. Bahkan adapula yang di bawah umur. Rina salah satunya, usianya 15 tahun, aku bertemu dengannya semalam sebelum ia menghilang entah kemana dari Kampung Peletuk. Tiba-tiba saja, wujudnya tak pernah kujumpai lagi selepas malam itu kami berjumpa di sebuah balai kayu terlantar di pinggir rel kereta. Tak ada yang spesial darinya, selain perutnya yang sebesar helm. Katanya bukan akibat busung lapar, anaknya sudah ia peram sejak 5 bulan yang lalu itulah isinya. Ia tak tahu itu anak siapa, ia takut itu anak ayahnya. Semenjak ibunya meninggal ketabrak mobil ketika bersepeda menjual jamu, ayahnya kembali menjadi pemabuk dan tak mampu lagi bekerja sehingga Rina dipaksa mencari uang sendiri. Ironisnya, selain menjadi pelanggan tetap, ayahnya lah yang mengenalkan Rina ke Ipah, bisa dibilang mentor dalam dunia kepelacuran. Nama Ipah melegenda di antara kami-kami. Tapi ia sudah pensiun jauh sebelum Rina bergabung, ia memegang rekor terbanyak di kotaku. 501 pria dalam karir kepelacurannya. Sayangnya kini dipegang olehku, 505 pria.

 

Banyak orang bertanya-tanya, apakah orang sepertiku tidak punya kemampuan untuk mencintai lelaki seutuhnya selain memuaskan nafsu? Jawabannya sederhana. Hampir setiap hari aku jatuh cinta. Bertemu dengan beberapa pria dalam semalam, bisa satu di antaranya membuatku jatuh cinta. Tapi ia tak melakukan apa-apa setelahnya, selain mengenakan pakaiannya kembali lalu menaruh beberapa lembar uang merah serta dua batang kretek di atas meja dan pergi, tanpa menoleh, padahal aku masih memperhatikannya dan menanti ia bertanya kembali namaku untuk mengingatnya, bukan sekedar basa-basi.

 

Orang-orang tak ingat namaku, mereka suka membicarakannya, berdebat tentang nama mana yang sebenarnya menyemat padaku di warung-warung, pos ronda. Padahal aku selalu memberi nama asliku kepada bajingan-bajingan itu. Lantas lima tahun lalu, aku benar-benar bertemu dengan pria yang selalu aku dambakan. Suaranya terngiang-ngiang selalu di kepalaku ketika ia memanggil namaku, “Siti, Siti, Siti,” dengan merdu. Malam itu, ia tiba-tiba menghampiriku di tempat biasa, kau tak boleh tahu.

 

“Siti?”

 

Aku menelan ludah, tak pernah orang menghampiriku dan bertanya seperti itu. Seakan-akan aku adalah perempuan yang telah berjanjian dengannya untuk bertemu. Biasanya, pertemuan pertama selalu membahas tarif, atau apa saja yang bisa kulakukan padanya. Tapi berbeda dengan dia. Ia memperkenalkan dirinya layaknya seorang lelaki terhormat.

 

Aku tak berbicara apa-apa. Kutinggalkan ia dan malam saat itu berduaan dalam kesunyian. Sampai akhirnya, perutku bergemuruh di pukul 2 pagi. Lantas ia mengajakku makan di sebuah warung. Aku tak pernah takut bila sewaktu-waktu aku bertemu pria jahat yang hendak memerkosaku di hutan, atau gubuk, atau di gedung tua yang ditinggalkan, karena bila itu terjadi, itu terjadi sekali seumur hidup.

 

Sebelum kubilang jangan makan di warung dekat-dekat tempat itu, ia sudah lebih dulu tahu. Ia membawaku keluar dari sana. Sepuluh menit ada mungkin aku berboncengan dengannya di atas motor Win 100 peninggalan ayahnya, melaju menembus angin yang buas sampai di suatu warung yang masih ramai dekat terminal bus. Kami duduk di sana. Dingin teramat dingin tentunya, untungnya ia selalu membawa sarung di jok motornya, ia memintaku untuk menutupi rok miniku dengannya, dan jaket loreng hijau yang ia pakai, dipakaikan padaku. Aku sempat bertanya, “Kau tak dingin?”

“Buluku lebat,”

 

Itu kalimat paling ambigu bagi perempuan sepertiku. Terlebih raut wajahnya biasa saja, seakan-akan tak ada yang aneh pada perkataannya itu.

 

“Oh, maaf,” Ia menunjukkan kedua tangannya yang lebat ditutupi bulu-bulu hitam.

 

Aku tertawa. Ia ikut tertawa lantas meminta maaf. Sungguh pria beradab. Aku tak mengharapkan kata maaf darinya. Tertawa saja menurutku sudah cukup jelas maksudnya.

 

Setelah makan aku membawanya ke kamar. Di sana kami lakukan seperti apa yang semestinya seorang pelacur dan pelanggan lakukan di kamar berduaan. Tetapi setelah itu, kami berbincang di atas ranjang bersama kretek. Tak pernah terjadi sebelumnya. Ia satu-satunya pria yang memperlakukankaku sebagai seseorang. Sepertinya ia tahu aku nyaman akan keberadaannya di sampingku kala itu. Padahal malam itu, pelanggan lumayan sepi dari biasanya buatku.

 

Lantas ia bercerita tentang bagaimana ia mengetahui namaku, tentu setelah berkata maaf karena telah menyerupai seorang penguntit. Ia seorang yang taat beragama, tapi itu dulu. Sedari umurnya 22, ia selalu mendengar namaku dibisik-bisik di balai samping musala Kampung Peletuk setiap habis salat isya. Jelas mereka itu teman-temannya, dan mereka semua palsu. Palsu tentang keimanannya, luarnya memanglah mereka serupa laki-laki alim dambaan kaum hawa di sana, tapi dalamnya tak lebih baik daripada najisnya babi. Ya, serupa laki-laki biadab Kampung Peletuk lainnya. Kau tahu orang yang suka menghakimi orang-orang yang keciduk mesum? Berteriak-teriak seakan-akan ayam hendak bertelur, mengumpat mereka karena kebejatannya, itulah kegiatan favorit mereka, padahal hampir tiap malam minggu mereka berkeliaran di sekitaranku.

 

Sita, Suti, Sati, itulah nama-nama yang keluar dari perbincangan mereka. Tapi, entah mengapa ia memilih Siti saat itu, dan tebakannya tepat menusuk jantungku.

 



Ia divonis kanker ketika usianya 30. Berjuang selama dua tahun sampai akhirnya waktu kematiannya sudah bisa ditebak oleh dokter, lantas ia memutuskan untuk mencoba hal-hal baru dalam hidupnya yang selama ini selalu tak mau ia lakukan karena berdosa dan meninggalkan segala hal yang berbau agama. Ia bilang, “sebentar lagi aku kan berada di antara ada dan tiada, setidaknya sebelum aku mati, Tuhan tahu aku sempat menjadi budak setianya.”

 

Katanya ia sudah mencoba semua jenis narkoba, tapi tetap favoritnya adalah ganja. Ia membawa beberapa ons malam itu, dan berharap mau menghisapnya berdua denganku. Tapi aku tak mau, narkoba tetaplah narkoba.

 

Ketika ia mau pamit, suara orang mengaji sudah diputar di musala-musala. Ia menaruh seratus juta di dalam amplop coklat besar yang ia simpan sedari tadi di dalam jok motornya. Katanya itu harta warisan hasil tanah yang ia jual. Anak sebatang kara, tak punya siapapun lagi dan hampir mati, ia tak tahu mau dibawa kemana uang itu dan memberikannya padaku selepas kubilang aku ingin menjadi jurnalis.

 

Ketika kutanya, “mengapa kau tak bikin anak saja? atau mengadopsi seseorang,” Ia bilang, “kanker telah merenggut kejantananku, dan soal mengadopsi anak? Bagaimana dengan anak yang tidak kuadopsi, tentu mereka merasa sedih.”

“Bagaimana dengan pelacur lain yang tidak kau beri?” tanyaku.

“Mereka hanya kurang beruntung.”

 

Aku tertawa. Tapi, sudah tentu awalnya kutolak mentah-mentah. Terus saja ia memaksa, hingga ia bersumpah untuk membakar uang itu bila aku tak mengambilnya, dan memintaku untuk menggunakannya sebagai biaya sekolah jurnalisme di luar kota. Aku mengambilnya, terpaksa, memang uang adalah benda kesayanganku di dunia, tapi seratus juta dalam semalam membuatku ragu akan kedudukannya di mataku malam itu. Aku menyimpannya di dasar lemari, tepat di bawah triplek yang sudah copot.

 

Sejak malam itu, aku tak lagi melacur. Malah beralih menjadi perempuan tertutup dan membawa buku kemana-mana. Harapan tentang pendidikan tinggi dan kehidupan yang lebih layak serta kemuliaan tersirna di depan mataku. Aku tak boleh menyia-nyiakannya.

 

Tetapi dunia memang tidak dapat ditebak, sebulan bulan kemudian ia mati, dan AIDS menghampiriku. Aku tak tahu apa yang mau kukatakan di depan dokter yang sedang menjelaskan prosedur pengobatan AIDS. Kepalaku pusing dan mengawang kemana-mana. Laki-laki itu yang menyuruhku untuk cek up, setidaknya sekali sebelum ia mati, dan ketika ia mati, kali pertama aku cek up langsung kena AIDS. Sialan.

 

Harapan itu kini seperti asap kretek yang sedang kuisap di taman rumah sakit. Hilang dalam sekejap terbawa oleh waktu. Sama seperti waktu yang sungguh cepat berlalu sedari lima tahun lalu. Aku tak tahu sampai kapan aku masih hidup, bahkan aku tak tahu apakah aku sudah mati atau belum sekarang. 100 juta yang kudapat dalam semalam akan habis dalam setahun pengobatanku, tapi nyatanya tidak. Lima tahun aku masih berada di sini. Berkat tulisan-tulisanku di blog, dan penggalangan dana yang tertera di sana.

 

Sialnya aku tak punya pilihan lain. Padahal awalnya aku ingin kembali ke dunia pelacuran, setidaknya aku bisa memberi mereka pelajaran dengan menyebarkan HIV. Tapi apa gunanya buatku selain kepuasan batin yang tiada ujungnya?  Setidaknya di sini aku memiliki keluarga. Tinggal bersama penderita AIDS memberiku gambaran, betapa indahnya memiliki keluarga. Waktu-waktu yang tidak pernah kupunya, kini kumiliki menjelang hayatku tiba. Terlebih Ibu-ibu perawat merawatku dengan baik. Sebelum-sebelumnya tak ada satu orangpun yang pernah melarangku untuk merokok, atau setidaknya memaksaku untuk menguranginya. Dan sekarang, aku diberitahu oleh Tuhan yang Maha Penyayang, tentang keinginanku selalu untuk mempunyai seorang Ibu, kini dikabulkannya. Tentu dengan cara yang bisa dibilang, unik. Padahal aku tak pernah menuruti perintah-Nya. Ataukah ini balasannya?

 

Aku tak peduli. Setidaknya, nama-nama yang kusemat dulu tak lagi berlaku di sini. Aku dikenal dengan nama Siti di sini. Acap orang melihatku, membicarakanku, mereka selalu menggunakan Siti untuk menyebutku, dan itu sesuatu yang selalu membuatku terharu.

 

Lima tahun waktu telah berlalu, sebentar lagi tahun kan berganti dan aku masih belum diberitahu kapan waktuku tiba dan aku dapat bertemu pria itu di neraka, sehingga kematian setiap hari menghantui dinding-dinding kepalaku. Dan itu rasanya sungguh tidak enak.

 

Apakah lima tahun lagi aku masih di sini? Bernafas untuk bisa hidup dan menghisap kretek untuk bisa mati? Aku tak punya jawabannya.

 

Mungkin kau kan tahu lima tahun lagi.

 

Banda Aceh, 2020

 

Nuzul Ilmiawan, merupakan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di Universitas Andalas, Padang. Lahir di Bireun, 19 Oktober 2001.

 

Photo by Heorhii Heorhiichuk from Pexels
Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*
%d blogger menyukai ini: