Topbar widget area empty.
Teater Rumah Mata & Hari Teater Sedunia Teater Rumah Mata Tampilan penuh

Teater Rumah Mata & Hari Teater Sedunia

Meskipun Kota Medan belum dipandang sebagai salah satu gudangnya seniman teater di Indonesia karena tak banyak pelaku pertunjukan teater lahir dan berkembang di kota ini. Teater Rumah Mata pimpinan Agus Susilo adalah salah satu pelaku yang masih eksis dan melanjutkan nafas teater di Sumatera Utara.

Tanggal 27 maret adalah Hari Teater Sedunia. Peringatan yang dicetuskan International Teater Institute (ITI) pada 1961 dan secara khusus diperingati seniman teater di berbagai Negara. Di Indonesia beberapa kota yang ikut merayakan seperti Bandung, Jogja, Surabaya, Jakarta, Solo, dan lain-lain.

Peringatan Hari Teater Sedunia digelar tidak hanya dalam bentuk pentas teater namun kegiatan lain seperti sarasehan, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, pantomim, hingga pameran dokumentasi pertunjukan teater.

Peringatan Hari Teater Sedunia berharap bukan jadi gelaran seremonial belaka tapi juga sebagai ajang refleksi dan resolusi kreativitas teater. Aktivitas teater harus diimbangi dengan kreativitasnya agar dapat berkembang dan diterima masyarakat.

Teater Mata melakukan Pentas Keliling di 10 Kota yaitu Jakarta, Bandung, Lampung, Jambi, Padang, Pekanbaru,  Banda Aceh, Medan, Sibolga dan Berastagi di bulan Maret dan April 2016. Pentas 11 Tahun Teater Mata berjudul “Ekstase Kemoceng” yang bercerita tentang Perempuan dan orang-orang pinggiran dalam pusaran hasrat kekuasaan. The Chaos Of Theatre (membongkar kekacauan psikososial masyarakat Indonesia dalam pusaran hasrat kekuasaan).

Agus Susilo mengatakan bahwa Ekstase Kemoceng lahir dari rahim Taman Budaya Sumut dalam kondisi proses kreatif para kreatornya yang stagnan, beku, mengharu biru, terbelenggu hasrat-hasrat kekuasaan, dan ketiadaan etos kerja. Ekstase Kemoceng bangkit di antara badai kepentingan-kepentingan yang menjelma sebagai monster kesenian yang miskin imajinasi. Ekstase Kemoceng dihadirkan oleh Teater Rumah Mata setelah 11 tahun usianya tetap tak “berumah”.

Teater Rumah Mata memiliki Konsep dan Metode tersendiri yang dipengaruhi oleh Jerzy Grotowski, Bertold Brecht, Stanilavski, Antonin Arthaud, Albert Camus, Becket, Rendra, konsep-konsep spiritual timur, dunia sufi. Teater Rumah Mata percaya dengan kekuatan jiwa, yang saya peroleh dari konsep metateater, lanjut Agus.
Teater Rumah Mata mencoba memberi injeksi pada kebekuan dan stagnasi proses kreatif di Medan khususnya . Semoga berefek ke wilayah yang lebih besar, Indonesia. Teater Rumah Mata sedang menuju The Chaos of Theatre. Teater Rumah Mata sedang menguji Konsep & Metode yang berangkat dari jejak-jejak orang-orang terdahulu yang memiliki pengaruh luas di dunia barat dan timur.

Ekstase Kemoceng adalah karya Kebersamaan dan Gotong Royong di ‘rumah’ saya dan beberapa kota yang kami lewati, yang telah mensupport, mengapresiasi, memberi masukan ide, memberi kekayaan imajinasi, menguatkan visi saya di jalan teater. Kami akan buktikan bahwa Masih Ada Masa Depan Teater di Negeri Ini!

Untuk membuktikan keberadaan Teater Rumah Mata dan Teater di Indonesia, Pentas Keliling Ekstase Kemoceng akan dilanjutkan dengan Ziarah Nusantara Teater Rumah Mata 2016 Episode Pulau Jawa (Jabodetabek, Banten, Jawa Barat, Jogjakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur).
Sebelum melakukan Ziarah Nusantara, Teater Rumah Mata akan melakukan Ngamen Teater di sejumlah kafe, hotel, taman, kampus, sekolah, dan ruang publik di Sumatera Utara untuk mendapat dukungan dan apresiasi masyarakat dan pencinta teater. Rantauprapat adalah salah satu kota yang akan mendapat kunjungan Pentas Ekstase Kemoceng pada tanggal 7 dan 8 Mei 2016 mendatang.

(Disarikan dari berbagai sumber)

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*

Tinggalkan komentar

19 − 12 =