Topbar widget area empty.
  • Beranda  /
  • Profil   /
  • Sabaruddin Marpaung dan FMM Gen Emas En Pabolo

Sabaruddin Marpaung dan FMM Gen Emas En Pabolo

Kematian adalah kehendak Allah. Namun kematian karena dibiarkan tanpa ada usaha yang maksimal bukanlah kehendak Allah, melainkan pembiaran

Forum Masyarakat Madani Gen Emas En Pabolo atau biasa disingkat FMM Labuhanbatu adalah sebuah organisasi yang bergerak dalam penyelamatan ibu melahirkan dan anak baru lahir yang dibentuk pada tanggal 11 Desember 2013 di Panti Asuhan Putri Siti Khatijah Rantauprapat. Organisasi ini dibidani oleh beberapa Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) seperti Muhammadiyah, Aisyiyah, Muslimat NU, Alwasliyah, Dewan Pendidikan, PPNI, IBI, PKK, LPPA, Pers, dll.

FMM Labuhanbatu diketuai oleh Sabaruddin Marpaung yang didampingi Wakil Ketua: Hj. Rolbariah, Hj. Hanim Asmara, Indarwaty Sinaga, Tatang Hidayat, Acen Susanto, Hamzah Syahbani,dan Yuniman Zebua. Aswin Syahputra (Sekretaris), Joko Gunawan (Wakil Sekretaris), Binsar Halomoan (Wakil Sekretaris) serta Ayulidar Chaniago (Bendahara), Luppiani Siambaton (Wakil Bendahara).

Apajake berkesempatan mewawancarai Sabaruddin Marpaung, untuk mengenal lebih dekat FMM Labuhanbatu.

Apajake: Apa dan bagaima FMM Gen Emas En Pabolo lahir?
Sabaruddin: FMM adalah sebuah tempat bagaimana kita bersatu bersama di dalam satu tujuan yaitu untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan penyelamatan anak baru lahir. Kenapa seperti itu, karena selama ini lembaga dan orang yang peduli terhadap ibu melahirkan telah berbuat hanya saja mereka melakukan secara sendiri-sendiri. Tidak terprogram dan terencana, juga tidak universal sehingga hasilnya sering tumpang tindih dan tidak memunculkan suatu kekuatan yang luar biasa. FMM berharap dengan adanya forum ini kita bisa menyatukan langkah dari seluruh kepentingan stakeholders dan seluruh kepentingan masyarakat yang fokus kepada penyelamatan ibu melahirkan dan anak baru lahir. Sehingga kebersamaan ini bisa merintis hal-hal yang sulit bila dilakukan sendiri atau satu kelompok.

logo_1

Apajake: Bagaimana FMM bekerja?
Sabaruddin: FMM adalah forum yang didirikan untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan anak baru lahir. Dalam bekerja, FMM mengedepankan kemandirian forum termasuk dalam pendanaan. FMM menjalin kerjasama kerjasama dengan seluruh komponen pemerintah dan masyarakat seperti BP2KB, Dinas Kesehatan, RSUD, PMI, BPMDK, Sekda, dan Bupati sebagai pemimpin daerah. Sedangkan jejaring yang dibangun adalah terhadap perongan dan organisasi seperti tokoh warga, tokoh masyarakat, dan sukarelawanan yang perduli terhadap kesehatan Ibu dan Anak. FMM juga melakukan monitoring kondisi fasilitas kesehatan, monitoring perjanjian kerjasama (PK), dan Maklumat Pelayanan. Maklumat Pelayanan dibutuhkan karena sering salah paham antara masyarakat dan pemberi layanan terutama terhadap pemerintah.

14045932_1791001237842658_2924019110492905666_n

Apajake: Bagaimana dengan pemberdayaan masyarakat?
Sabaruddin: Ini menjadi fokus utama FMM khususnya terhadap kegiatan promotif dan preventif. Karena FMM fokus pada ibu melahirkan dan anak baru lahir maka pemberdayaan pada desa seperti Desa Siaga menjadi perhatian. FMM juga melakukan upaya legislasi yaitu produk perundang-undangan. Upaya ini diperlukan untuk menyamakan atau memaksa kegiatan-kegiatan yang menghormati wanita terutama penyelamatan ibu melahirkan dan anak baru lahir. Peraturan Daerah atau Peraturan Bupati tentang Ibu Melahirkan dan Anak Baru Lahir sangat dibutuhkan, namun sayangnya sampai hari ini belum terealisir.

Apajake: Bagaimana pembiayaan FMM?
Sabaruddin: FMM mengumpulkan dana dari organisasi yang tergabung dalam forum, seperti Muhammadiyah dan Aisyiyah yang setiap bulan menyumbangkan dana dan melakukan pertemuan dengan FMM. Ada juga arisan masing-masing OMS. FMM juga bekerjasama dengan BAZIS Labuhanbatu untuk sustainability kegiatan. BAZIS dapat memberikan dana untuk kegiatan penanggulangan melahirkan bagi keluarga miskin sehingga tidak menjadikan alasan bagi mereka untuk melahirkan di rumah. Ini dilakukan agar FMM tetap independen dan tidak diintervensi oleh pihak manapun. Kerjasama dengan Kepala Desa untuk advokasi Dana Desa sebagai ujung tombak karena langsung bersentuhan dengan masyarakat. Desa adalah adalah kumpulan orang-orang dan kumpulan keluarga sehingga dapat bergotong royong dan sadar sehingga desa menggeliat menjadi desa yang mandiri.

14095793_1791206487822133_3969092041551799782_n

Apajake:  Seperti kegiatan preventif yang dilakukan FMM untuk mengurangi angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir?
Sabaruddin: FMM mendata dan mendampingi semua ibu melahirkan karena banyak kasus-kasus kematian ibu hamil disebabkan si ibu tidak terdata dan tidak ada pendampingan. Apalagi adanya hal lain seperti kultur masyarakat yang tidak peduli terhadap ibu hamil sehingga ibu hamil merasa sakit sendirian. FMM membangun jaringan hingga ke Kecamatan (FMM Kecamatan) dan Desa (MKIA, Motivator Kesehatan Ibu dan Anak). MKIA diambil dari kader-kader desa. 1 Desa 1 MKIA. Kegunaan MKIA sebagai perpanjangan suara sekaligus memberikan informasi kepada masyarakat sekaligus menyampaikan umpan balik untuk diperjuangkan kepada pemerintah daerah agar suara-suara masyarakat terhadap pelayanan masyarakat bisa sampai kepada pengambil kebijakan seperti Bupati.

14212008_1794389734170475_4911027844973714472_n

Apajake: Apa target yang ingin dicapai FMM?
Sabaruddin: Harapannya bisa mencapai Zero Toleransi, minimal 12/1000 kematian. Target ini luar biasa sulit karena adanya kayakinan dan kultur, ekonomi, kemiskinan yang bertambah, pengetahuan ibu hamil yang rendah, pola makan dan pola hidup yang tidak sehat begitu juga perencanaan kehamilan yang tidak dilakukan secara benar sehingga menjadi tantangan sendiri. Apalagi program KB ternyata di lapangan tidak berjalan secara baik. Ini menjadi tantangan tersendiri. Ini memerlukan waktu yang panjang untuk membangun kesadaran dan merubah pola pikir masyarakat. Karena mengubah pola pikir dan kebiasaan merupakan sesuatu yang sulit bagi manusia maupun komunitas. Disinilah diperlukan strategi yang disebut kerja keras dan kerja cerdas yaitu bagaimana mampu membentuk atau membuat suatu kreasi kegiatan yang tidak monoton dan diterima masyarakat dan menyentuh langsung kepada kehidupan masyarakat.

14040135_1791206617822120_2761786186187195089_n

Apajake: Apa saja pencapaian yang sudah didapatkan FMM?

Sabaruddin: Alhamdulillah FMM sudah melakukan banyak hal, antara lain:

  1. Melakukan Perjanjian Kerjasama (PK) dengan seluruh Puskesmas dengan fasilitas kesehatan (faskes) binaan di wilayahnya.
  2. Berhasil mendorong dibuatnya Maklumat Pelayanan (MP). Maklumat pelayanan adalah sebagai bentuk perjanjian atau kesadaran tenaga kesehatan sebatas mana mereka mampu melayani masyarakat sesuai dengan SOP yang sudah ada pada masing-masing faskes.
  3. Mengembangkan, mencari atau bekerjasama dengan seluruh relawan-relawan yang selama ini sudah berbuat agar bergerak bersama dalam penyelamatan ibu dan anak. Alhamdulillan Banyak relawan yang sukarela mendata dan mendampingi ibu hamil bahkan sampai mengantarkan ibu hamil ke RSUD agar ibu hamil bisa aman, tenang karena mereka sebenarnya belum tahu bagaimana mendapatkan hak-hak mereka.
  4. Melakukan advokasi salah satunya dengan keluarnya SK Bupati tentang Tidak Diperkenankannya Menolong Persalinan di Rumah.
  5. Sedang melakukan inisiasi percepatan agar Bupati mau menantangani Perbup tentang pemyelamatan ibu melahirkan.
  6. FMM secara nasional telah berhasi mendesak Menteri Kesehatan agar mengalokasikan APBN untuk Jampersal khusus Rumah Tunggu Persalinan dan alhamdulillah Labuhanbatu salah satu yang mendapatkannya.
  7. Secara nasional FMM Labuhanbatu sudah terdaftar di Menkes dan menjadi icon untuk Sumut. Satu-satunya FMM di Sumut yang diminta Dinkes Provinsi untuk menjadi Mentor dan Fasilitator pendirian FMM di Kabupaten Labuhanbatu Utara, Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal. Semua itu berkat kerjasama tim dan kebersamaan semua yang mana di dalamnya ada IBI, PPNI, Dewan Pendidikan, HIMNI, IDI, Ikatan Apoteker Indonesia, Alwasliyah, Aisyiyah, Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, KNPI, dll (sebanyak 26) yang ikut mendukung kegiatan ini agar Labuhanbatu menjadi Hebat ke depan. Masing-masing OMS mengirimkan orang terbaiknya ke forum.
  8. FMM Labuhanbatu diundang sebagai peserta dalam International Civil Society Week 2016 di Jakarta.

14047223_1241627599201211_155012224494211004_o

Apajake: Apa harapan FMM ke depan?
Sabaruddin: Semoga FMM ke depan lebih bagus, energik, semangat dan kontinyu. FMM akan terus mendampingi terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan ibu hamil dan anak baru lahir sehingga masyarakat tidak takut dan tidak gamang dan khawatir terhadap apa yang dikandungnya. Karena anak merupakan generasi masa depan. Labuhanbatu harus menghasilkan Generasi Emas pada 30 tahun ke depan sehingga Labuhanbatu mencapi puncak kejayaan generasi. Untuk mencapai kejayaan itu diperlukan kerja keras saat ini, yaitu bagaimana agar bayi sehat, cerdas, cukup gizi, dan kalori. Maka investasi yang dilakukan adalah investasi masa depan yang tidak bisa didapatkan saat ini.

Labuhanbatu harus menghasilkan Generasi Emas pada 30 tahun ke depan

(Foto: FMM Gen Emas En Pabolo)

Red/TP

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*

Tinggalkan komentar

5 × 5 =