Topbar widget area empty.
  • Beranda  /
  • Opini   /
  • Problem Solver not Problem Maker; Mewujudkan Anak Labuhanbatu Hebat
Problem Solver not Problem Maker; Mewujudkan Anak Labuhanbatu Hebat seminar-anak Tampilan penuh

Problem Solver not Problem Maker; Mewujudkan Anak Labuhanbatu Hebat

 

Masalah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan); soal; persoalan. Sedang dalam penelitian permasalahan sering pula disebut sebagai dengan istilah problema atau problematik.

 

Masalah apa saja yang sering dihadapi anak yang bisa bikin orangtua dan kita khawatir? Komisi Perlindungan Anak Indonesia mengutip dari Unmich.edu mengatakan ada 10 masalah yang sering dihadapi anak, yaitu:

 

  1. Obesitas

 

Obesitas terjadi jika asupan kalori yang masuk lebih besar dibanding yang keluar. Sebagian besar penyebabnya karena anak sering mengonsumsi makanan junk food, jarang beraktifitas fisik, lebih banyak bermain game di depan komputer atau menonton televisi. Kondisi ini bisa membuat anak kesulitan melakukan beberapa hal dan untuk jangka panjangnya menempatkannya pada risiko lebih tinggi terkena berbagai penyakit seperti jantung, stroke, diabetes dini yang memicu banyak komplikasi.

 

  1. Penyalahgunaan obat

 

Penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau narkoba pada anak dan remaja biasanya berawal dari coba-coba yang ia dapatkan dari teman-temannya. Umumnya efek dari obat-obatan ini bisa membuat orang jadi tenang dan melupakan masalahnya meski hanya bersifat semu. Ada 4 jenis bahaya yang bisa dialami pengguna narkoba yaitu efek racun yang bisa menyebabkan overdosis, efek intoxication seperti kecelakaan atau luka, mengembangkan adiksi atau kecanduan dan efek kesehatan kronis seperti kerusakan otak, HIV/AIDS atau hepatitis.

 

  1. Merokok

 

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar sehingga ia cenderung ingin mencoba sesuatu yang baru termasuk rokok. Padahal sebagian besar perokok dewasa akibat sudah memulai kebiasaan ini sejak dini. Jika kondisi ini tidak dicegah, maka dampak negatif dari rokok tersebut bagi diri anak akan semakin besar. Karena itu tak jarang orangtua merasa cemas dan khawatir jika tahu anaknya sudah mulai merokok.

 

  1. Keamanan internet

 

Internet bisa membuat seseorang mendapatkan segala macam informasi dengan lebih mudah, termasuk anak-anak. Tapi keamanan internet yang lemah bisa membuat anak mendapatkan informasi yang salah. Sebagian besar masalah keamanan internet untuk anak-anak ini seputar informasi tentang seks termasuk pornografi dan juga kekerasan. Informasi yang diterima anak-anak ini bisa mempengaruhi perilakunya.

 

  1. Stres

 

Stres juga bisa dialami oleh anak-anak, biasanya disebabkan oleh tugas sekolah yang terlalu banyak, lingkungan sekolah yang membuat anak merasa tidak nyaman atau tertekan dan ketika anak-anak akan menghadapi ujian. Namun pada beberapa anak, kadang ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya sehingga membuat orangtua khawatir dan tidak tahu apa yang membuat anaknya menjadi stres.

 

  1. Bullying (perilaku kekerasan)

 

Bullying yang dialami oleh anak bisa berasal dari teman-teman sekolah, lingkungan atau keluarganya. Anak-anak korban bullying ini 14 kali lebih mungkin memiliki masalah perilaku dan emosional. Kekerasan sejak usia dini harus segera dihentikan, hal ini karena kekerasan pada anak tidak hanya menimbulkan luka fisik tapi juga trauma terhadap mental anak yang bisa mempengaruhi perkembangannya.

 

  1. Kehamilan usia muda

 

Kehamilan di usia muda bisa menimbulkan risiko besar pada diri perempuan tersebut. Studi menemukan ia berisiko 4 kali lipat lebih tinggi mengalami luka parah dan kematian saat melahirkan. Hal ini karena secara organ reproduksi ia belum siap untuk mengandung sehingga berisiko mengalami tekanan darah tinggi yang tidak terdeteksi, serta sel telur yang dimilikinya juga belum siap.

 

  1. Pelecehan dan penelantaran anak

 

Pelecehan baik secara seksual maupun fisik dan juga penelantaran akan menimbulkan trauma tersendiri bagi anak, kondisi ini bisa mempengaruhi perkembangan anak baik secara mental maupun fisik. Selain itu risiko kesehatan juga bisa muncul terkait dengan strategi coping (penyelesaian masalah) pada korban pelecehan atau penelantaran ini seperti makan berlebihan, penggunaan alkohol dan merokok yang nantinya mempengaruhi kesehatan.

 

  1. Penyalahgunaan alkohol

 

Meski alkohol tidak boleh dijual pada anak dibawah umur, tapi kenyataannya banyak anak-anak yang pernah mengonsumsi alkohol. Jika sejak kecil ia terbiasa minum alkohol maka hal ini akan memicu kecanduan berisiko bagi kesehatan. Penyalahgunaan alohol ini bisa memiliki dampak buruk bagi kesehatan karena akan mempengaruhi berbagai organ di dalam tubuh, mulai dari otak, saluran pencernaan (mulut sampai usus besar), hati atau liver, pankreas, otot, tulang dan sistem reproduksi.

 

  1. Tidak punya waktu untuk olahraga

 

Banyak orangtua yang khawatir melihat perilaku anaknya yang lebih banyak nonton televisi atau main game di depan komputer, sehingga tidak memiliki waktu atau sulit diajak berolahraga. Kondisi ini tentu saja akan memicu anak kelebihan berat badan, obesitas sehingga mudah terkena penyakit

 

 

If there is no solution to the problem, then don’t waste time worrying about it. If there is a solution to the problem, then don’t waste time worrying about it.  (Dalai Lama)

 

 

 

Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

 

 

Dewan Pendidikan Jawa Timur secara serius mengangkat persoalan karakter dan menerbitkannya dalam sebuah buku Penumbuhan Budi Pekerti, Kini. Dunia pendidikan sejauh ini menempatkan ranah kognitif sebagai domain yang nyaris disucikan. Ketimpangan cara mengapresiasi karakter yang berada dalam ranah afektif ini, kemudian berdampak kepada perilaku lulusan setelah memasuki kehidupan nyata. Kehidupan sosial, ekonomi dan politik kita sejauh ini diwarnai dengan berbagai kegaduhan. Kegaduhan ekonomi dan politik itu lebih disebabkan karena adanya gejala defisit mental, moral dan karakter para pemimpin negeri ini. Akibatnya kemudian hilanglah momentum dan banyak peluang untuk menjadi bangsa yang berkemajuan.

 

Mari kita merenungkan pernyataan Emerson Davies yang dikemukakan tahun 1839 dalam bukunya The Teacher Taught or the Principles and Modes of Teaching. Davies menyatakan bahwa kemakmuran suatu bangsa tidak bergantung pada luasnya wilayah yang dimiliki bangsa tersebut, juga bukan pada kesuburan tanahnya. Kemakmuran suatu bangsa terletak pada jumlah pikiran yang terdidik dan moral yang tinggi. Suatu bangsa yang jumlah penduduknya kecil karenanya bisa saja memiliki kekuatan fisik dan moral yang lebih besar daripada bangsa yang besar jumlah penduduknya.

 

kemakmuran suatu bangsa tidak bergantung pada luasnya wilayah yang dimiliki bangsa tersebut, juga bukan pada kesuburan tanahnya. Kemakmuran suatu bangsa terletak pada jumlah pikiran yang terdidik dan moral yang tinggi. (Emerson Davies)

 

Gerakan penumbuhan budi pekerti sesuangguhnya juga mendapat perhatian sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 dan bahkan pernah mengeluarkan Buku Panduan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa yang berisikan 18 Sikap dan Perilaku yang harus dimiliki siswa. Namun karena pendidikan karena bukanlah sesuatu yang diajarkan dalam bentuk mata pelajaran tersendiri tetapi terintegrasi dan membutuhkan contoh nyata dari para pengajar sehingga implementasinya belum dapat terlaksana baik.

 

18 Sikap dan Perilaku yang penting ditanamakan dan dapat menjadikan anak yang hebat adalah:

  1. Religius; Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
  2. Jujur; Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
  3. Toleransi; Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
  4. Disiplin; Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
  5. Kerja Keras; Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
  6. Kreatif; Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
  7. Mandiri; Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
  8. Demokratis; Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
  9. Rasa Ingin Tahu; Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
  10. Semangat Kebangsaan; Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
  11. Cinta Tanah Air; Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
  1. Menghargai Prestasi; Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
  2. Bersahabat/Komuniktif; Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
  1. Cinta Damai; Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
  2. Gemar Membaca; Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
  3. Peduli Lingkungan; Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
  1. Peduli Sosial; Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
  2. Tanggung-jawab; Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

 

Pendidikan harus mampu mencapai tujuan kualitas peserta didik yang mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Banyak penelitian menerangkan jika kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan 80% oleh soft skill. Karenanya mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan

 

 kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan 80% oleh soft skill

 

 

Model dan Metode Pembelajaran Berbasis Masa Masalah (Problem Solving)

 

Model pembelajaran berbasis masalah atau lebih spesifik Metode pembelajaran berbasis masalah (Problem Solving) adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau jawabannya oleh siswa. Metode pembelajaran berbasis masalah atau metode pembelajaran berbasis masalah ini sering dinamakan atau disebut juga dengan eksperimen  method, reflective thinking method, atau scientific method (Sudirman, dkk., 1991).

 

Berdasarkan modul pelatihan Kurikulum 2013. Pembelajaran berbasis masalah dikelompok dalam 4 jenis  Model Pembelajaran yang wajib dikuasai guru. Pengertian model Pembelajaran Berbasis Masalah disini  diartikan sebagai pembelajaran yang menggunakan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari (otentik) yang bersifat terbuka (open-ended) untuk diselesaikan oleh peserta didik untuk mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan menyelesaikan masalah, keterampilan sosial, keterampilan untuk belajar mandiri, dan membangun atau memperoleh pengetahuan baru. Pembelajaran ini berbeda dengan pembelajaran konvensional yang jarang menggunakan masalah nyata atau menggunakan masalah nyata hanya di tahap akhir pembelajaran sebagai penerapan dari pengetahuan yang telah dipelajari. Pemilihan masalah nyata tersebut dilakukan atas pertimbangan kesesuaiannya dengan pencapaian kompetensi dasar.

 

Dengan demikian, Model atau Metode pembelajaran berbasis masalah atau metode pemecahan masalah (Problem Solving) adalah sebuah metode pembelajaran yang berupaya membahas permasalahan untuk mencari pemecahan atau jawabannya. Sebagaimana metode mengajar, metode pemecahan masalah sangat baik bagi pembinaan sikap ilmiah pada para siswa. Dengan metode ini, siswa belajar memecahkan suatu masalah menurut prosedur kerja metode ilmiah.

 

Gambaran langkah-langkah metode Pembelajaran Berbasis Masalah atau Metode Problem Solving

 

the-probling-solving-loop

 

 

Secara Sederhana langkah penerapan Model Pembelajaran Berbasis masalah dalam kegiatan belajar mengajar adalah sebagai berikut:

  1. Siswa dibantu guru mempersiapkan dan merumuskan masalah yang akan diteliti
  2. Siswa mencoba menentukan alternatif pemecahan masalah tersebut
  3. Siswa mengumpulkan informasi sesuai alternatif permasalahan yang telah ditentukan
  4. Siswa membuat simpulan
  5. Siswa mempersentasikan simpulan tersebut.

 

Kelebihan Menggunakan Metode pembelajaran Berbasis Masalah atau Metode Problem Solving

  1. Dengan Metode/Model Pembelajaran berbasis masalah atau Metode Problem Solving akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan.
  2. Dalam situasi Metode/Model Pembelajaran Masalah atau Metode Problem Solving, peserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan.
  3. Metode/Model Pembelajaran Masalah atau Metode Problem Solving dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.

 

Dengan cara tersebut diharapkan anak-anak didik untuk berpikir dan bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah. Metode dan model pembelajaran ini akan membuat anak-anak akan dapat menganalisa dan memecahkan masalah yang mereka hadapi di kehidupannya.

 

 

Pemenuhan Hak Anak

 

Problema anak tidak lepas dari tidak terpenuhinya hak-hak anak yang secara internasional dan nasional  sudah diatur seperti Konvensi Hak Anak PBB Tahun 1989, UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan UU no.35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

 

10 Hak Anak berdasarkan Konvensi PBB adalah: Hak untuk Bermain, Hak untuk mendapatkan Pendidikan, Hak untuk mendapatkan Perlindungan, Hak untuk mendapatkan Nama (Identitas), Hak untuk mendapatkan Status Kebangsaan, Hak untuk mendapatkan Makanan, Hak untuk mendapatkan Akses Kesehatan,  Hak untuk mendapatkan Rekreasi,  Hak untuk mendapatkan Kesamaan, Hak untuk memiliki Peran Dalam Pembangunan.

 

Sedangkan 31 Hak Anak menurut UU No. 23 tahun 2002 yang dirumuskan dalam 5 Kluster  Hak Anak (Konvensi Hak Anak) adalah: Hak sipil dan kebebasan, Lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif, Kesehatan dasar dan kesejahteraan, Pendidikan,pemanfaatan waktu luang dan kegiatan seni budaya, serta Perlindungan khusus.

 

Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu yang sudah ditetapkan menjadi Kabupaten Layak Anak dan telah memiliki Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak. Dengan demikian masalah anak seharusnya menjadi prioritas bagi Labuhanbatu karena 31% dari jumlah penduduk merupakan usia sekolah (5-19 tahun). Hal ini sejalan dengan Visi Bupati H. Pangonal Harahap “Satu Tekad Bersama Rakyat Menuju Sejahtera 2020, Labuhanbatu Semakin Hebat dan Berdaya 2025.”

 

 

(Dirangkum dari Makalah “Problem Solver not Problem Maker; Mewujudkan Anak Labuhanbatu” oleh Tatang Hidayat Pohan, M.Si pada Seminar Anak Forum Anak Daerah Labuhanbatu tanggal 22 Nop 2016)

Tatang Hidayat
Ditulis oleh Tatang Hidayat

Redaktur Apajake

( 9 Followers )
X

Follow Tatang Hidayat

E-mail :*

Tinggalkan komentar

tigabelas − tiga =