Topbar widget area empty.
Molotov Buatan Kita Foto Jeli Manalu Tampilan penuh

Molotov Buatan Kita

Segala yang terjadi kemudian, seolah bermula dari sepasang pakaian yang membuat kita gagal untuk pergi.

 

Awalnya, kamu mencocokkan warna atasan dan warna bawahan. Motif atasan dan motif bawahan. Apakah yang polos dengan yang polos atau warna cerah dengan sebaliknya.

 

Kamu mengerutkan dahi dan menggigit bibir. Di tangan kirimu, kaos oblong kuning bersablon tengkorak hitam. Di kananmu, ternyata, celana courduroy gading gajah yang bagian ujungnya menyerupai huruf A.

“Cocok, gak?” tanyamu, akhirnya, sewaktu aku akan ke luar.

“O-o, cocok.”

“Enggak jelek?”

 

Aku merasa kalau kamu terlalu memusingkan pendapat orang lain tentangmu. Jadi, sebaiknya, aku tak menjawab dulu, hanya supaya kamu berhenti memikirkan hal itu. Tetapi kamu malah menunjukkan yang satunya.

“Yang garis-garis ini?”

“Boleh juga.”

“Warnanya?”

“Iya.”

“Gak malu-maluin?”

“Enggak.”

“Enggak?”

“Eng-gak.”

Kok kamu, iya-enggak, iya-enggak aja! Gak peduli, ya, samaku?”

 

Pendengaranku menjerit menerima suara tenormu. Daripada mengambil posisi yang sama kemudian membalas mezzo forte-mu, lebih baik aku menceracau di pianississimo pada lagu Seurieus, “Roker juga manusia, punya mata punya hati, jangan samakan dengan pisau belati. Istri juga manusia, punya mata punya hati, jangan samakan dengan ….”

 

Di dapur suntuk kita, kusiapkan sarapan dengan harapan, kamu telah berdamai dengan baju-baju itu, juga celana-celana itu. Aku, yang menurut kaca mata minusmu mengenai lemari kita yang kini tampak bagai gorong-gorong disesaki hal-hal yang berpotensi menaikkan tekanan darah, dari hati paling jujur ingin berkata; sayangku, tolong maafkan aku, sebab tak memiliki cadangan kesabaran untuk memperbaiki dan memperbaiki baju-baju kita yang sangat amat berantakan itu.

 

Pada malam menyengsarakan karena tidak dapat membujuk mata serta pikiran agar segera bertamasya ke alam tidur, dalam lamunan, kuperdebatkan hal-hal tak berguna. Apa semua manusia berjenis kelamin laki-laki mempunyai pandangan serupa terhadap isi lemari, yang mana setiap kali menarik baju-celana hingga baju-celana saling bersinggungan lalu pergi begitu saja, dan di lain kesempatan ketika akan mempergunakannya kembali, penghuni-penghuni lemari itu telah disihir oleh tangan ajaib seorang wanita. Barang-barang di lemari Anda telah kembali ke habitatnya. Silahkan tekan knop. Hanya penyihir putih yang mampu melakukan itu.

 

Di awal-awal hubungan kita, kuambilkan pakaian yang akan kamu pakai setiap kita ke luar rumah. Aku membuat catatan khusus untuk itu. Semua pakaian harus tuntas dikenakan sesuai nomor antrian.

 

Belakangan, kamu pilih sendiri baju-baju itu, dan membiarkan begitu saja segala yang telah kusiapkan sejak semalam, pada pukul dua puluh satu setelah menidurkan anak-anak kita.

 

Aku lupa bahwa suasana hati membawa pengaruh banyak kepada setiap kemungkinan. Warna tertentu menjelaskan situasi tertentu. Corak A mendeskripsikan simbol A. Baju tebal dan gelap untuk hari yang dingin. Kain lembut dan berwarna lebih cerah kepada musim panas.

 

Aku pernah mengkritikmu. Kamu pernah membantahku. Giliranmu mengkritikku, giliranku membalasmu. Hal-hal sepele yang kita sampaikan tanpa memerhatikan bias mata dan permukaan dahi terlebih dulu, bisa menjadi baris-baris puisi tentang pedang di medan pertempuran.

 

Kita berkelahi mulut. Dan segenap keindahan yang pernah kita tertawakan di bawah langit ungu di atas loteng tanpa atap di tengah-tengah kebun sawit, menjadi tabu untuk kita perbincangkan.

 

Tak ada kolam hijau yang diriuhi kecipak mujahir, ikan-ikan gurami dengan kangkung di pinggir-pinggirnya. Tak ada anggrek bulan yang tumbuh dengan baik lalu kita atur agar merambat ke dinding. Juga Norwegian Forest–kucing unik pendiam dan jarang bersuara keras itu, mungkin tak pernah ada lagi dalam cerita makan pagi. Lalu rumah kayu di tempat sepi, jauh dari kebisingan yang tidak seperti rumah toko sewaan kita saat ini, tak lebih dari sekadar guyonan petang ketika kita dalam baik-baik.

 

Sampai bolu gulung dan susu sereal berpindah ke lambung, serta kopi susumu tak lagi hangat, aroma kayu manis, jahe dan buah jeruk itali yang muncrat dari botol kaca, tak muncul-muncul di penciuman. Bau parfum yang tak menguap di udara, pertanda seorang di antara kita tidak akan ke mana-mana. Kita sama-sama jatuh cinta kepada parfum. Bahkan sebelum jatuh cinta kepadamu, aku telah lebih dulu mencintai aroma parfum dalam keringat soremu, ketika kita masih karyawan di perusahaan pria Tionghoa.

 

Aku gelisah. Hari sudah pukul tujuh lewat lima puluh lima menit. Pukul delapan tiga puluh, acara dimulai. Jarak dari rumah kita ke tempat itu sekitar dua puluh kilo, dan kita menggunakan sepeda motor bebek. Dan jalan yang akan dilalui sepeda motor bebek itu, bergelombang, kadang berlubang.

 

Aku menyusulmu dan membawakan sarapanmu. Tapi di kamar samar-samar karena lampu yang sengaja kamu matikan itu, aku harus mengatakan apa sewaktu menyaksikanmu sungguh seru mengamati berita Euro yang dibawakan perempuan cantik. Putri Violla.

 

Kubuka lemari. Kuambil celana mini serta baju bertali satu yang bagian belakangnya berbentuk silang. Kemudian aku ke kamar mandi. Kuhidupkan kran, besar-besar, lalu kuyanyikan lagu ciptaan sendiri, yang isinya memaki-makimu.

 

Kamu suka menonton siaran televisi. Aku lebih senang mendengarkan musik. Aku pernah memutar lagu Adele, Don’t You Remember, lima kali berturut-turut. Anak-anak sedang rewel, dan kita bertengkar hingga saling berteriak. Kamu meninggalkan piring, padahal baru saja memintaku meracik tiram dengan sambal super pedas ditambah asparagus rebus. Tiram dan asparagus yang pernah kita baca di sebuah majalah dewasa hingga memesan menu itu sewaktu berbulan madu  di Pulau Bintan, membuatku terbayang ranjang. Dingin, dan tak terjadi apa-apa.

 

Lalu karena bahasa Inggrisku sejauh yes or no, maka, aku membuka kamus terjemahan online sambil mengikuti suara serak Adele. Sesudahnya, sewaktu tak sengaja menghadap cermin ketika akan ke kamar mandi, aku melihat dua mata panda yang bengkak-bengkak.

 

Akhir-akhir ini, dokter melarangmu untuk tidak memakan makanan pedas. Sejak remaja, aku tak pernah bisa makan jika tidak disertai cabai. Kamu gampang terserang diare. Aku sering sembelit. Menelan masakan pedas, mengakibatkanmu setidaknya lima kali bolak-balik kamar mandi. Memakan makanan pedas mengatasi susahnya buang hajatku. Kita harus mengatakan apa? Kita makan di meja makan yang sama dengan menu yang hampir tidak pernah sama.

 

Aku menikmati sayur menggunakan santan cair yang tanpa minyak makan atau ayam cincang ditumis bersama wortel, kol, brokoli dan daun bawang. Kamu tergila-gila pada lemak anak babi di pemanggangan yang ditaburi garam dan ajinomoto. Bahkan aku pernah mengabaikanmu karena kamu mengabaikan perkataanku. Siang itu, sewaktu turun hujan, kamu mengangkat ponsel.

“Halo ….”

Mataku tak kepadamu tetapi telingaku menyimak baik-baik.

“Biasa, empat kilo.”

Empat kilo?

“Antar, ya!”

 

Mungkin kamu tak menduga, dan aku lebih tak percaya lagi. Anak babi yang telah dibelah itu, kuduga setiap hari diajak induknya mencuri buah-buah sawit. Ia sangat gemuk dan berminyak-minyak.

“Yang putih-putih itu, buang saja,” kataku, melarangmu memakan lemak kenyal itu.

“Gak tahu yang enak, kamu!” jawabmu, ketus, seolah tak ingin dicampuri soal daging-dagingan.

 

Tengah malam sewaktu aku kamu kira lelap, kamu memasukkan lemak yang telah kamu potong-potong ke dalam air mendidih, menambahkan cabai rawit hijau beserta indomie. Subuhnya kamu meringis menahan sesuatu yang mungkin seperti puting beliung tersesat di usus-ususmu.

 

Di rumah toko sewaan kita, sangat mudah merakit bom molotov. Banyak botol-botol bekas, dari yang terkecil hingga seukuran bir bintang. Sumbu kompor juga ada, bensin, minyak tanah, apalagi korek api.

 

Seandainya hari itu rumah kita tidak dikunjungi seorang teman lama, berdasarkan keakuanku-kekamuanmu, barangkali, bahan-bahan sederhana itu sudah kita rakit, dan terjadilah ledakan.

 

Dalam hal ini, pada pertengkaran-pertengkaran yang melelahkan sekaligus memuakkan itu, kehadiran tamu selalu kita rindukan. Kita pernah menyebut tamu sebagai malaikat penyelamat suatu hubungan yang memang sengaja dikirim Tuhan.

“Aku terjebak pada perempuan yang kamu kenalkan itu,” katamu, sore itu, setelah tamu itu duduk, dan aku di belakangmu tanpa sepengetahuanmu membawa nampan berisi tiga gelas minuman.

“Mungkin kami sama-sama terperangkap,” lanjutmu, yang kemudian membuatku berpikir-pikir tentang kehadiran teman kita yang seorang sarjana hukum itu.

 

Beberapa hari sejak kedatangan pria itu, aku kehilangan sepasang anting-anting burung penguin, yang kamu berikan pada hari di mana kamu melamarku. Kita tak perlu bertengkar untuk itu. Kita tak lagi membicarakan soal lemari pakaian, soal makanan, soal televisi, soal musik, soal bepergian, rumah kayu, kolam hijau, kucing norwegian dan anggrek bulan.

 

Kubayangkan kamu dan putra sulung kita bermain bola di tanah tanpa rumput, di lapangan tanpa penonton. Sedang tiga koper besar, aku dan bayi perempuan kita dalam kereta dibunuh lirik-lirik lagu. I Will Always Love You. Aku akan selalu mencintaimu–Whitney Houston.

 

Tiba-tiba, aku teringat sesuatu. Salinan surat perceraian kita, lupa kutandatangani. Sesampai di stasiun, aku buru-buru ke loket dan membeli tiket untuk kembali. Tiga jam kemudian, aku tiba di bundaran. Menggunakan mobil sewaan agar segera sampai karena sudah di pertiga malam, dari kejauhan kusaksikan kembang api yang melayang ke awan. Perasaanku tidak enak. Kamu tidak suka dengan kembang api, juga anak kita.

 

Keramaian menyerupai kerumunan semut yang di tengah-tengahnya ada kembang gula melebihi tinggi rumah. Bukan merah muda, tapi warna oranye yang berkibar.

“Kebakaran! Kebakaran!”

 

Aku melupakan mobil dan juga barang-barang. Sambil menggendong bayi perempuan kita di depan perut hingga berjalan tergopoh-gopoh, dalam keadaan dada nyaris meledak, aku mendapati seonggok hitam yang saling berpelukan.

Riau, Maret 2016

Tag:
Ditulis oleh Jeli Manalu

lahir di Padangsidempuan, 2 oktober 1983, Tinggal di Rengat-Riau. Penikmat sastra dan giat menulis cerpen

Tinggalkan komentar

2 + duabelas =