Topbar widget area empty.
Sakura Bunga Sakura (Illustrasi) Tampilan penuh

Sakura

Akhirnya kita tiba pada masa yang kita mulai sejak dua puluh lima tahun lampau, sehari setelah kau dan aku jadi sepasang. Di tempat ini, kita akan melakukan hanami1 sebagai turis pas-pasan sekaligus merayakan kebahagiaan karena telah menghantarkan Linna dan Tina ke rumah orang yang mencintai mereka.

“Aku ingin menyaksikan musim semi dan musim gugur.”

“Kau bisa melakukannya sekaligus.”

“Oh, ya?”

 

Aku terharu mendapati wajahmu yang merah jambu. Sudah lama tak kulihat ia, walau di ujung matamu terlihat jelas garis-garis keriput saat tertawa. Lebih tepatnya, sudah lama kita tak tertawa selepas ini.

“Akan kukantongi bunga-bunga itu.”

“Kau tak bisa melakukannya.”

Kok bisa?”

“Sakura itu mekar setahun sekali. Penjaga taman pasti memarahimu.”

“Sstt… Aku ‘kan gambilnya diam-diam. He-he….”

 

Pertama kali tertarik akanmu, ketika kulihat kau berdebat dengan seorang pendayung becak. Ia membawamu berkeliling-keliling menuju sebuah tempat yang ternyata tempat itu sudah tiga kali kalian lewati.

“Berapa, Bang?”

“Dua ribu lima ratus.”

Ha? Biasa cuma seribu dua ratus!”

“Itu ‘kan kalau biasa, Dik.”

Ih, itu derita Abang, kali! Mutar-mutar nggak jelas. Aku bilang gang Manggis, bukan gang Mangga. Akhirannya is bukan ga.”

 

Aku mendekatimu dengan menyamar jadi pahlawan. Setelah berunding, kau akhirnya membayar ongkos. Tapi ada syarat; kau memintaku mengantarmu ke  mana saja.

 

Sesampai di rumahmu, aku menemukan bermacam-macam bunga. Hanya beberapa yang kukenali; bunga pacar air, anggrek bulan, mawar putih, dan ada bunga yang bau, warna kuning, mungkin itu bunga tahi ayam. Berjalan ke sudut, aku terkesima pada kuntum bunga dengan helai bersusun-susun. Warnanya pucat kebiruan.

“Kembang seribu.”

“Bunga favorit?”

“Ya, tapi nggak juga. Aku bercita-cita ingin ke Jepang.”

 

Kuperhatikan lagi bunga kesukaanmu itu, dan ternyata masih ada kuntum yang entah bagaimana caranya bisa menjulang ke atas, dan di atasnya kutemukan sebaris kalimat. Setelah ini, jangan lagi kau panggil kita.

“Itu karanganmu?”

“Ah, aku suka membacanya. Eh, ngomong-ngomong, apa pekerjaanmu?”

 

Aku tahu namamu. Kau tahu namaku. Aku tahu rumahmu, mungkin, kau hanya akan mendapati dua orangtua sewaktu bertandang ke rumah bercat biru.

 

Tiga tahun kemudian, kita bertemu. Kau melihatku dengan baju hijau loreng-loreng. Sedang kau duduk di halte entah sedang apa. Aku mendekat. Akan tetapi di siang terik itu mengapa banyak air di wajahmu?

 

Aku kemudian duduk, dengan sangat hati-hati di sampingmu tanpa berani bertanya-tanya. Tiba-tiba kau menjatuhkan diri di lenganku. Aku kaget. Apa kau seyakin ini? Apa aku seyakin itu? Atau pertanyaan lain yang hingga kini belum sepenuhnya kupahami; apa kau yakin kalau aku merupakan tempat paling tepat untuk kau meminjam lengan seorang lelaki?

 

Tanpa kusadar-sadari pula, kedua tanganku membuat lingkaran di tubuhmu. Kau berucap sambil sesenggukan. Kau telah menjahit baju kembang-kembang. Warnanya putih tulang. Berenda di sekitar kancingnya. Tetapi pria yang kau cintai menghilang bersama sesosok alien berambut panjang dan berhidung mancung.

 

Kita akhirnya menikah enam bulan setelah pertemuan itu. Setahun kemudian, kita memiliki dua anak kembar yang cantik-cantik, seperti cantikmu.

 

Hari ini, dua puluh empat tahun setelahnya, kita menggelar tikar sambil menikmati mi dingin dan sashimi di bawah pohon sakura yang kau cintai. Kau tak ingin pemandangan yang pengunjungnya terlampau ramai. Oleh karenanya kita menghindari Ueno Park dan memilih kota Kyoto.

 

Sakura putih kemerahjambuan, adalah warna yang paling kau kagumi.

“Sakura menjadi pengibarat untuk kehidupan yang sebentar,” katamu, lalu memintaku memotretmu dengan beragam gaya. Kau suka difoto. Aku suka melihatmu difoto. Tapi aku lebih suka memelukmu.

“Ayo, kita harus lari. Tiga, dua, satu!” katamu lagi, setelah mengatur sesuatu pada tustel itu.

 

Kadang kita bertingkah lucu. Kadang kau menciumku. Kadang kita merentangkan tangan dan banyak lagi yang mungkin akan tersimpan selamanya di ingatanku. Banyak hal sengaja terjadi agar tidak mudah terlupakan. Misalnya, dalam cerita pendekmu yang berjudul Pria Berbaju Loreng-loreng, atau Lelaki Pengembara—yang langsung menghentak di paragraf pembuka; seorang temanku yang menikah dengan lelaki pengembara, mengagetkanku di pagi buta. Ia menangis tersedu-sedu dan sedikit agak marah. Suaminya sudah berbulan-bulan tak memberi kabar sementara anaknya yang sulung tiba-tiba masuk instalasi gawat darurat.

 

Saat itu, sepengetahuanmu, aku bekerja di Daerah Istimewa Aceh. Tetapi tanpa sepengetahuanmu terlebih sepengetahuanku hingga tak mungkin mengabarimu, tiba-tiba aku dikirim ke perbatasan Kalimantan. Awalnya penugasan itu bersifat sementara karena ada hal yang teramat genting. Nyatanya medan yang memang sangat sulit dan sungguh jauh dari jangkauan luar, membuatku dan regu terjebak berminggu-minggu di lambung hutan.

 

Bulan berikutnya, aku kembali kepadamu. Kulihat kau yang tak biasa. Bukan seperti pertemuan kita yang kedua, di halte waktu itu, yang tiba-tiba saja kita begitu lengket. Kau tak langsung mengemasi pakaian kotorku. Kau menjauh dariku kemudian berderai-derai di sudut kamar. Aku duduk di sebelahmu, yang lama, yang tanpa suara. Aku menunggu mata indahmu menatap mataku dengan keberanian yang kukenali sebagaimana kau berdebat dengan pendayung becak kala itu.

 

Kita tak kunjung bercakap-cakap hingga dua hari kepulanganku. Kau hanya menyiapkan nasi, lauk kesukaanku, dan juga kopi di dalam gelas yang polos, bukan gelas bertuliskan ‘mama’. Seraya menikmati kopi lezat buatanmu, aku mencari-cari bahan bacaan. Dan betapa terkejutnya aku menemukan sepotong esai yang mengatasnamakan dirimu di sebuah koran kenamaan. Rupa-rupanya, kau sudah mulai hebat saat ini. Aku menelan ludah. Pahit rasanya.

 

Hari kedua di Jepang, kita ke Osaka. Kita menyaksikan bunga runtuh sebagai kado pernikahan perak ditemani ramen panas juga shabu-shabu. Kau langsung berbaring di bawah pohon sakura.

“Sayang, cepat kemari!” kau berteriak melalui corong dari tanganmu.

 

Aku menyusulmu, membuat tubuhku sejajar denganmu. Bunga-bunga turun kepada kita, mengubur kita, dan kita hanya menyisihkannya dari kepala saja. Kau tertidur. Mungkin kau sudah bermimpi. Barangkali sudah saatnya.

Sayangku, maafkan aku. Semoga di saat bangun, kau tak terkejut. Aku sudah mengatur kepulanganmu. Mungkin setelah ini kau akan lebih fokus menulis dan segera memperoleh penghargaan. Perlu kau ketahui, aku salah satu dari penggemar rahasiamu itu. Aku yakin, tak butuh waktu lama bagimu melalui ini. Kau punya banyak teman di facebook. Seperti dalam esaimu yang menyebutkan; satu-satunya perceraian terbaik adalah perceraian yang tanpa melibatkan anak-anak.

 

Rengat, Juni 2016

 

Catatan:

  1. Tradisi menyaksikan musim semi
  2. Kutipan dari esai perceraian karya Nora Ephron yang diterjemahkan oleh Jessica Huwae (Fiksi Lotus).
Ditulis oleh Jeli Manalu

lahir di Padangsidempuan, 2 oktober 1983, Tinggal di Rengat-Riau. Penikmat sastra dan giat menulis cerpen

Tinggalkan komentar

lima × lima =